Gempa di Jakarta bukan lagi sekadar bualan. Sudah seharusnya masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Dua hari lalu, Rabu (20/8/2025), guncangan berkekuatan M4,9 dengan pusat di Karawang terasa jelas hingga Jakarta dan sekitarnya. Seketika warga panik dan berhamburan keluar rumah karena getarannya cukup kuat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi penyebab gempa disebabkan oleh Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat, tepatnya di Segmen Citarum. Sejarah mencatat, Jakarta dan sekitarnya, yang kini dihuni jutaan penduduk, bukan wilayah yang asing dari gempa. Sejak ratusan tahun lalu, gempa sudah mengguncang Jakarta. Salah satunya terjadi 191 tahun lalu, ketika guncangan dahsyat meratakan banyak bangunan kokoh di Jakarta (dulu Batavia), termasuk rumah orang-orang terkaya hingga istana megah milik pejabat tinggi kolonial.
Pada dini hari 10 Oktober 1834, terjadi gempa besar yang berpusat di Megamendung, Bogor, serta terasa sampai Jakarta dan sekitarnya. Saat itu penyebab gempa belum diketahui. Salah satu penelitian hasil kolaborasi ITB, BMKG, dan sejumlah universitas lain mengungkap bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Baribis. Menurut laporan Javasche Courant (22 November 1834), guncangan mengakibatkan banyak bangunan di Jakarta, Bogor (dulu Buitenzorg), dan kawasan sekitar rusak parah bahkan runtuh. Ternyata, kerusakan tak hanya menimpa rumah warga dengan fondasi sederhana berbahan dasar kayu, melainkan juga hunian megah dan istana pejabat yang punya fondasi kuat.
Salah satu korbannya adalah Agustijn Michels, sosok yang dikenal sebagai orang terkaya di Hindia Belanda (kini Indonesia). Namun, pada gempa 1834, dia menderita kerugian besar. Istana Buitenzorg, kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, juga ikut roboh. Pemerintah kolonial kemudian berencana membangun kembali rumah pejabat tinggi itu dengan desain yang berbeda. Hasil pembangunan ulang inilah yang akhirnya berdiri megah sebagai Istana Bogor dan bisa disaksikan hingga sekarang. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gempa tidak pernah pandang bulu. Jika guncangan terjadi hari ini, dampaknya bisa jauh lebih besar. Jakarta yang kian padat dan dipenuhi gedung tinggi membuat penduduknya harus mempertebal kewaspadaan terkait mitigasi bencana. Sejarawan de Haan dalam De Laatste der Mardijkers (1917) bahkan mencatat, luas tanah Michels diperkirakan setara dengan Provinsi Utrecht di Belanda, yakni sekitar 1.449 km² atau 144 ribu hektare.





