Kunjungan parade militer China yang dihadiri oleh berbagai pemimpin dunia seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dan Presiden RI Prabowo Subianto, terus menjadi sorotan internasional. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahkan menyuarakan kecurigaannya terhadap adanya konspirasi yang melibatkan China, saat mengucapkan selamat kepada Presiden Xi dan rakyat China yang merayakan perayaan penting.
Tak hanya kali ini, AS sering kali memperhatikan dengan cermat kunjungan pemimpin dunia ke China. Sebagai contoh, kunjungan Presiden pertama RI, Soekarno ke China pada tahun 1956, yang menjadi tonggak sejarah dalam hubungan kedua negara. Sambutan meriah dari China terhadap Soekarno dicatat dengan detail oleh media masa China, dengan pertemuan langsung dengan pemimpin besar seperti Mao Zedong dan Zhou Enlai.
Pengawasan ketat ini sebagian besar dilakukan oleh Badan Intelijen AS (CIA) yang tengah memantau hubungan antara Indonesia dan China yang dianggap sebagai wilayah perebutan pengaruh antara AS dan Uni Soviet. Selain itu, sikap Soekarno yang mendukung klaim China atas Taiwan juga menjadi perhatian utama CIA.
Dalam menjalani kunjungan tersebut, Soekarno dengan sadar mengakui bahwa langkah-langkahnya terus diawasi oleh AS. Tuduhan sebagai komunis yang muncul juga diakui Soekarno sebagai hasil dari propaganda yang dipredikatkan oleh pihak Amerika Serikat. Namun, Soekarno tegaskan bahwa hubungan baik antara China dan Indonesia tidak perlu campur tangan dari negara lain.
Setelah peristiwa lengsernya Soekarno dari kursi kepresidenan pada 1966, hubungan diplomatik antara Indonesia dan China sempat merenggang. Namun, kedekatan kembali antara kedua negara baru terjalin pada tahun 1990. Melalui kisah sejarah ini, kita dapat memahami bahwa hubungan internasional memiliki peran tersendiri dalam geopolitik global.





