Air Bah Tumpah Langit-Libas Kota: Mayat Bergeletakan

by -43 Views

Kisah tragis banjir dan tanah longsor di Sibolga kembali mengguncang warga pada akhir November tahun ini. Meskipun terasa sebagai bencana yang tiba begitu saja, sejarah telah mencatat peristiwa serupa yang melanda kota pesisir ini hampir enam puluh tahun yang lalu. Pada malam Sabtu, 22 Juli 1956, langit tiba-tiba memunculkan gemuruh yang menakutkan, diikuti oleh hujan deras yang tak terduga. Banjir bandang menyusul tanpa ampun, menghancurkan segala yang ada di jalurnya, termasuk kehidupan manusia.

Menurut laporan koran pada masa itu, air bah hanya butuh dua menit untuk menghancurkan dua per tiga wilayah kota yang berada di sepanjang Sungai Aek Habil. Korban jiwa yang tewas secara instan mencapai 38 orang, termasuk pasangan pengantin baru yang terkubur dalam lumpur. Kehancuran setelah banjir surut tak kalah mengerikan, ribuan rumah luluh lantak, jembatan-jembatan roboh, dan lahan pertanian hancur berantakan. Kerugian material menurut perkiraan mencapai jumlah yang fantastis pada saat itu.

Pemerintah pun segera menetapkan status darurat militer untuk mengkoordinasikan evakuasi korban dan memulai proses rehabilitasi. Bantuan dari berbagai daerah di Indonesia mulai berdatangan, menunjukkan solidaritas bangsa dalam menghadapi musibah bersama. Hampir enam dekade berlalu, namun bencana serupa kini kembali menghantui Sibolga, mengingatkan kita bahwa potensi bahaya selalu ada. Sejarah itu bukan hanya kenangan, namun juga alarm penting tentang perlunya mitigasi bencana yang terus dipahami dan dipersiapkan secara serius.

Source link