Warga Minang Sumbang Emas 14 Kg untuk Pesawat Baru

by -87 Views

Kisah luar biasa kepedulian masyarakat Minangkabau di masa awal kemerdekaan Indonesia terungkap melalui penggalan sejarah yang menyentuh hati. Pada September 1947, proklamator asal Minang, Mohammad Hatta, mengusulkan pembentukan panitia pengumpulan emas untuk membiayai pembelian pesawat. Inisiatif ini dipicu oleh kebutuhan akan pesawat untuk keperluan penting seperti diplomasi, perang, dan angkutan. Alokasi anggaran yang terbatas pada masa itu membuat kontribusi masyarakat sangat berarti, khususnya dari ibu-ibu Minangkabau yang turut berpartisipasi.

Diketahui bahwa ibu-ibu Minang sebelumnya sering membeli emas untuk ditabung, sehingga permintaan untuk menyumbangkan emas tidak sulit diwujudkan. Dalam waktu singkat, terkumpul sebanyak 14 kilogram emas dengan nilai saat ini setara dengan Rp 31 miliar. Seluruh emas tersebut kemudian diserahkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) untuk membeli pesawat Avro Anson.

Pesawat tersebut berhasil dibeli oleh pemerintah Indonesia dengan bantuan dari masyarakat, dan diterbangkan oleh penerbang AURI Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi dari Singapura ke Padang, Sumatra Barat. Meskipun pesawat itu berperan penting dalam keperluan angkut dan diplomasi Republik Indonesia, nasib tragis menimpanya pada 14 Desember 1947. Saat dalam perjalanan kembali ke Bukittinggi, pesawat RI-003 mengalami kecelakaan di Tanjung Hantu, Murok Perak, menyebabkan kematian Halim dan Iswahyudi.

Selain masyarakat Minang, masyarakat Aceh juga turut andil dalam pembelian pesawat pada awal kemerdekaan. Para orang kaya Aceh berhasil mengumpulkan 50 kilogram emas untuk membeli dua pesawat DC-3 yang diberi nama RI-001 dan RI-002. Inisiatif ini menunjukkan semangat dan kepedulian masyarakat yang luar biasa dalam mendukung kemerdekaan Indonesia.

Source link