Sejarah Penginapan Turis di Indonesia Era Belanda

by -58 Views

Kunjungan pesona ke berbagai wilayah, termasuk Bali, belum menyebabkan tingkat hunian hotel meningkat secara signifikan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya popularitas akomodasi ilegal yang menjadi pilihan bagi turis dengan dana terbatas. Menurut Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, fenomena ini menunjukkan kurangnya pengawasan pemerintah sebagai regulator, meskipun aturan perizinan akomodasi telah jelas.

Faktor ini kemudian menimbulkan pertanyaan menarik, yaitu di mana turis biasa beristirahat sebelum jenis akomodasi modern seperti hotel atau vila dikenal luas di Indonesia. Achmad Sunjayadi, sejarawan, menyatakan bahwa sarana akomodasi di Indonesia berkembang sejalan dengan tingginya minat pariwisata ke Hindia Belanda saat itu. Sebelum hadirnya hotel, wisatawan biasa tinggal di rumah kenalan atau pasanggrahan yang berfungsi sebagai tempat istirahat sementara para bangsawan lokal.

Sunjayadi juga menyebutkan bahwa pasanggrahan awalnya dibangun untuk raja dan bangsawan lokal ketika berpergian, tetapi kemudian dimanfaatkan sebagai tempat bermalam bagi pengunjung datang dari luar daerah. Tarif menginap di pasanggrahan saat itu sekitar 2,5 gulden per malam, termasuk dengan pelayanan sederhana. Pengalaman seorang tentara Prancis, Bernard, menginap di pasanggrahan menunjukkan kesan positif atas layanan yang diberikan.

Jejak pasanggrahan ini masih dapat ditemukan hingga saat ini, meskipun industri hotel kini mendominasi sektor pariwisata. Bangunan pasanggrahan yang masih berdiri atau nama wilayah yang mengingatkan pada masa lalu, seperti Pesanggrahan di Jakarta Selatan, menjadi bukti dari perjalanan akomodasi di Indonesia. Ini menunjukkan bagaimana evolusi akomodasi di Indonesia dari masa ke masa seiring dengan perkembangan pariwisata.

Source link