Kudeta di Iran: AS Terlibat dalam Kerusuhan?

by -61 Views

Demonstrasi besar-besaran pecah di berbagai kota di Iran sejak akhir 2025, dipicu oleh ketidakpuasan publik terhadap pemerintah yang semakin diperparah oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan. Pemerintah Iran menegaskan bahwa gejolak internal yang terjadi telah disusupi oleh intervensi asing, khususnya dari Amerika Serikat (AS). Negara tersebut merasa curiga terhadap campur tangan asing karena mendapat pengalaman intervensi dari AS pada tahun 1953. Kala itu, AS menyusun skenario kudeta terhadap Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadegh, yang berhasil menjatuhkannya dan mempengaruhi kestabilan global dalam produksi minyak.

Setelah Iran merdeka pada tahun 1941, AS memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan Iran melalui dukungannya kepada Dinasti Pahlavi, terutama Mohammad Reza Pahlavi yang sering disebut sebagai “boneka” Washington. Namun, keseimbangan berubah ketika Mossadegh terpilih sebagai Perdana Menteri pada tahun 1951 dan mendukung nasionalisasi industri minyak, yang menjadi ancaman bagi kepentingan Barat. Pada 20 Maret 1951, Undang-Undang Nasionalisasi Minyak disahkan, memicu panik di Inggris dan Barat serta menimbulkan ketakutan akan krisis energi global.

Inggris merespons keras dengan embargo minyak, pembekuan aset, dan penarikan pegawai. CIA dan MI6 kemudian melancarkan Operation Ajax untuk menggulingkan Mossadegh pada Agustus 1953. Kerusuhan besar di Teheran mengakibatkan kejatuhan Mossadegh, berakhirnya kebijakan nasionalisasi minyak, dan kembalinya kontrol minyak Iran ke tangan asing. Meskipun pada awalnya terlihat sebagai protes masyarakat, puluhan tahun kemudian terungkap bahwa penggulingan Mossadegh melalui campur tangan AS, membuktikan sejarah intervensi eksternal dalam politik Iran.

Source link