Kebiasaan Purba yang Menghambat Warga Indonesia dalam Menabung

by -57 Views

Sejak zaman dulu, masyarakat Indonesia selalu dianjurkan untuk hidup hemat dan menabung. Nasihat ini dianggap sebagai kunci menuju stabilitas finansial dan kemakmuran. Namun, hidup hemat bagi masyarakat Indonesia bukan hanya sekadar keinginan pribadi. Dalam sejarahnya, penghematan tidak pernah menjadi nilai sosial yang mendarah daging.

Sejarawan Ong Hok Ham pernah menyoroti masalah ini pada tahun 1986. Menurutnya, masyarakat Indonesia sejak lama terbagi antara hidup mewah dan hidup miskin, dengan sedikit ruang untuk konsep hidup hemat. Akar masalah ini terletak pada sejarah hubungan sosial sebelum tahun 1900.

Pada era modern, praktik keterikatan tersebut berubah menjadi investasi sosial, sebagai cara untuk menjaga posisi dan relasi dalam struktur sosial. Bagi masyarakat kelas menengah ke atas, praktik ini tidak terasa sebagai beban. Namun, bagi masyarakat miskin, tuntutan sosial tersebut menjadi tekanan yang sulit dihindari.

Contohnya, banyak pengeluaran yang dilakukan bukan karena kebutuhan pribadi, tetapi karena tuntutan sosial seperti merayakan acara besar atau memberi hadiah. Hal ini seringkali mengorbankan kondisi ekonomi rumah tangga. Pandangan Ong pada masanya muncul sebagai kritik terhadap pemerintah dan kesulitan ekonomi pada saat itu.

Meskipun Presiden Soeharto pada saat itu mengimbau masyarakat untuk hidup hemat dan sederhana sebagai solusi dari krisis ekonomi, seruan tersebut tidak selalu diikuti. Para pejabat dan orang kaya cenderung hidup mewah dan menghambur-hamburkan uang. Akhirnya, penanganan krisis ekonomi lebih bergantung pada deregulasi kebijakan ekspor dan investasi. Pada akhir 1980-an, ekonomi Indonesia kembali stabil.

Source link