Seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah bernama Alfa dan adiknya, Arsya, yang merupakan siswa Raudhatul Athfal (RA) Ma’arif, tidak diberikan jatah Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini terjadi setelah ibu mereka mengritik pelaksanaan program MBG. Reaksi dari ibu tersebut diunggah dalam video oleh seorang jurnalis bernama Adi Sipriadi di akun Instagramnya. Video tersebut memperlihatkan seorang pria yang mewawancarai Alfa mengenai tidak mendapatkan jatah MBG selama tiga hari.
Alfa mengakui bahwa dirinya satu-satunya siswa yang tidak mendapatkan jatah MBG, sementara teman-temannya semua mendapatkannya. Reaksi dari Adi terhadap kejadian ini sangat tegas, dia merasa terpukul dengan kejadian ini. Ia menekankan bahwa tidak hanya masalah lapar fisik yang dialami Alfa, namun juga dampak mental yang terjadi karena situasi tersebut.
Kejadian ini terjadi di sebuah Madrasah, meskipun tidak disebutkan secara spesifik nama sekolahnya. Adi mengecam perlakuan tersebut, di mana kritik terhadap kualitas MBG dibalas dengan tindakan intimidasi kepada siswa. Ia menganggap bahwa ini sebagai gambaran dari kondisi pendidikan saat ini dan menekankan pentingnya penegakan keadilan dalam menanggapi kritik.
Adi menunjukkan bahwa kritik seharusnya dijadikan sebagai sumber perbaikan, bukan sebagai alasan untuk membalas dengan tindakan dendam. Dia juga menyoroti bahwa kejadian ini menunjukkan bagaimana urusan perut anak-anak dipolitisasi dan dijadikan alat intimidasi, yang membuatnya mempertanyakan di mana letak kemanusiaan dan keadilan dalam kasus ini.





