Nama Timothy Ronald kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat karena dugaan praktik edukasi kripto yang kontroversial. Timothy diketahui mempromosikan Akademi Crypto dengan biaya langganan tahunannya yang mencapai Rp17 juta. Meskipun menawarkan “ilmu rahasia” untuk kesuksesan finansial melalui kripto dengan klaim sebagai “anak muda triliuner”, program ini mendapat kritik karena substansi materi yang dangkal dan kurangnya manfaat yang sepadan dengan biaya yang dibayarkan.
Sejumlah mantan peserta mempertanyakan kualitas materi yang diberikan oleh Timothy, yang dinilai kurang dari ekspektasi. Banyak konten yang dijanjikan sebenarnya tersedia secara gratis di internet dan kurangnya bimbingan yang memadai. Bahkan, ada yang menilai kelas tersebut lebih berkutat pada motivasi dan pengagungan terhadap diri Timothy daripada pendidikan teknis mengenai kripto.
Pemaparan gaya hidup kemewahan Timothy dalam promosi program edukasinya, mulai dari mobil sport hingga klaim memiliki saldo kripto bernilai miliaran rupiah, dinilai sebagai upaya pemasaran untuk menciptakan kesan kesuksesan yang berkembang pesat. Pola pemasaran seperti ini menimbulkan perbandingan dengan kasus influencer kripto lainnya yang terlibat dalam penipuan.
Kasus ini menggarisbawahi kurangnya pengawasan terhadap sektor edukasi digital dan kripto di Indonesia. OJK dan Satgas Waspada Investasi diminta untuk meningkatkan pengawasan guna mencegah masyarakat terjerumus dalam program edukasi yang meragukan yang bersifat instant dan lebih menonjolkan motivasi daripada substansi nyata.





