Video tahlilan di depan rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo telah menjadi viral di media sosial dan menimbulkan kontroversi. Beberapa pihak menganggap kegiatan tersebut sebagai politisasi tradisi keagamaan, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk doa yang sah dan bagian dari budaya masyarakat.
Mohamad Guntur Romli, seorang politikus dan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), mengkritik penggunaan tahlilan dalam konteks politik praktis. Menurutnya, tahlilan adalah ritual sakral yang seharusnya tidak dicampurkan dengan kepentingan politik.
Romli menegaskan bahwa tahlilan merupakan bagian integral dari tradisi Islam Nusantara dan seharusnya dilakukan sebagai ibadah, bukan untuk tujuan politik. Sebaliknya, beberapa peserta dari kegiatan tersebut membela kegiatan tersebut sebagai doa sukarela tanpa adanya agenda politik.
Polemik seputar kegiatan tahlilan di rumah Jokowi ini dipandang oleh publik karena konteks dan figur yang terlibat. Sebagai seorang tokoh nasional, rumah Jokowi memiliki makna simbolis yang kuat, sehingga segala aktivitas di sekitarnya sering diinterpretasikan sebagai pesan politik.
Kontroversi ini memunculkan pertanyaan tentang batas antara kegiatan keagamaan dan politik dalam masyarakat, serta pentingnya interpretasi dan persepsi publik terhadap situasi ini.





