Sejak lama, media Amerika Serikat kerap menyoroti pemimpin dunia, termasuk presiden Indonesia pertama, Soekarno. Salah satu media yang menarik perhatian adalah majalah Time, yang pada 10 Maret 1958 menerbitkan artikel berjudul “INDONESIA: Djago, the Rooster”. Dalam artikel itu, Soekarno digambarkan sebagai tokoh sentral Indonesia dengan karisma luar biasa dan dianggap memiliki aura kepemimpinan yang hampir mistis. Tidak hanya fokus pada karismanya, Time juga membahas hubungan dekat Soekarno dengan seorang dukun bernama Madame Suprapto, yang disebut sebagai ramalan favorit sang presiden.
Kedekatan Soekarno dengan Madame Suprapto digambarkan begitu besar, hingga perhatian yang diberikan hampir menyamai para penasehat politiknya. Suprapto bahkan memberikan ramalan kontroversial tentang pecahnya Perang Dunia III, yang kemudian menimbulkan reaksi serius di dalam negeri. Banyak media lokal membantah dan menilai ramalan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat dipastikan.
Meskipun demikian, Soekarno merespons dengan tenang dan bahkan melihat sorotan media asing ini sebagai sesuatu yang dapat memperkuat citra Indonesia di mata dunia. Dia menegaskan bahwa dirinya bukanlah sosok mistis seperti yang digambarkan oleh media luar negeri dan menolak label sebagai dukun.
Dalam pandangan Soekarno, pengecaman dari luar negeri menandakan bahwa Indonesia berjalan di atas rel kebenaran. Beliau juga menilai bahwa pujian dari luar negeri dapat dianggap sebagai bentuk kesalahan nasionalisme. Dengan sikapnya yang bijaksana, Soekarno mampu menjaga citra dan martabat negaranya tanpa terpengaruh oleh tudingan-tudingan kontroversial.





