Operasi militer yang dipimpin langsung oleh Amerika Serikat dimulai setelah serangan terhadap kapal dagang Amerika di Kuala Batu, Aceh. Pada tahun 1831, kapal dagang Friendship diserang oleh warga setempat ketika sedang melakukan pembelian lada. Presiden Amerika Serikat saat itu, Andrew Jackson, langsung memberikan perintah kepada Kapten USS Potomac, John Downes, untuk segera bertindak. Downes yang dikenal sebagai komandan tempur tangguh segera memuat 300 tentara dan meriam ke dalam kapal untuk menuju Aceh.
Strategi yang digunakan Downes pun cerdik. Kapal perang USS Potomac menyamar sebagai kapal dagang Belanda agar tidak menimbulkan kecurigaan di Aceh yang saat itu merupakan kerajaan independen yang kuat. Setelah tiba di Aceh, tentara Amerika menyamar sebagai pedagang untuk memetakan wilayah dan mengetahui kekuatan pertahanan Kuala Batu. Serbuan mendadak dilakukan pada 6 Februari 1832, memakan korban warga lokal yang mencapai puluhan hingga ratusan orang.
Meskipun awalnya dipuji sebagai pahlawan, tentara AS kemudian dikritik sebagai pembunuh biadab karena melakukan serangan saat penduduk tertidur, tidak melakukan negosiasi, dan membunuh perempuan serta anak-anak. Meskipun Presiden Jackson berhasil meredam kritik tersebut, sejarah tetap mencatat serangan USS Potomac sebagai peristiwa tragis yang memicu perang panjang dan berdarah di Aceh. Serangan tersebut bahkan membuka jalan bagi invasi Belanda ke daerah tersebut.
Makalah ini merupakan bagian dari CNBC Insight yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kondisi masa kini melalui kisah masa lalu.
Serangan Kapal Dagang di Aceh Membuat AS Murka





