Mitos Kekayaan Orang China: Alasan Di Balik Persepsi Warga RI

by -40 Views

Di Indonesia, terdapat anggapan bahwa semua warga keturunan China adalah orang kaya. Namun, hal ini sebenarnya adalah hasil dari kebijakan kolonial yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Wijkenstelsel dan Passenstelsel adalah aturan pemerintah kolonial yang membedakan penduduk berdasarkan etnis dan golongan dalam wilayah tertentu serta membatasi mobilitas seseorang.

Orang China adalah kelompok yang paling terdampak oleh kebijakan ini. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1740, terjadi konflik berdarah antara orang China dan VOC di Batavia yang berujung pada pembantaian ribuan orang China oleh kompeni Belanda. Akibat trauma ini, VOC memberlakukan kebijakan pengawasan ketat terhadap komunitas China untuk mengontrol dan membatasi pergerakan mereka.

Mona Lohanda dalam penelitiannya mencatat bahwa orang China akhirnya terisolasi dalam satu kawasan khusus di luar Batavia, yang kemudian dikenal sebagai Glodok. Mereka juga diharuskan membawa identitas dan surat jalan jika hendak bepergian. Kebijakan ini diperketat pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga orang China hidup dalam ruang sosial yang sangat terbatas.

Meskipun terisolasi, komunitas China di Pecinan berhasil membangun hubungan internal yang kuat, terutama dalam bidang perdagangan. Hal ini kemudian melahirkan pusat-pusat ekonomi baru di perkotaan dan menghasilkan pengusaha-pengusaha besar seperti Oei Tiong Ham, Raja Gula terkaya di Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Namun, tidak semua warga China hidup dalam kemewahan. Banyak di antara mereka yang hidup sebagai kelas menengah bahkan miskin. Stigma bahwa semua orang China kaya dan eksklusif lebih merupakan warisan kebijakan kolonial daripada realitas sosial yang sebenarnya. Sejarah menegaskan bahwa kesuksesan ekonomi keturunan China bukanlah semata-mata akibat kerja keras dan hidup hemat, melainkan lebih kompleks dari itu.

Source link