Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada usia 90 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Kepergian Try Sutrisno menandai akhir perjalanan panjang karier militer dan politiknya, dimulai sebagai ajudan Presiden Soeharto hingga mencapai posisi sebagai Wakil Presiden ke-6 RI pada masa Orde Baru.
Try Sutrisno memulai karir militernya dari satuan Zeni pada tahun 1960 dan bertugas di berbagai tempat seperti Palembang, Jakarta, Bandung, dan Jawa Timur sebelum akhirnya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Pengalaman ini menjadi batu loncatan bagi Try Sutrisno dalam mendapatkan kepopuleran dan karir yang cemerlang di lingkaran kekuasaan.
Dipercaya oleh pimpinan ABRI untuk berbagai jabatan penting seperti Kepala Staf Kodam Udayana dan Panglima Kodam Sriwijaya, Try Sutrisno kemudian menjabat Panglima Kodam Jakarta Raya sebelum akhirnya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pengangkatan Try sebagai KSAD dianggap menunjukkan kepercayaan Soeharto padanya, meskipun latar belakangnya dari korps Zeni.
Puncak karier militer Try Sutrisno adalah saat menjadi Panglima ABRI pada tahun 1988 sebelum akhirnya diangkat menjadi Wakil Presiden ke-6 RI pada tahun 1993. Meskipun awalnya muncul desas-desus bahwa Try Sutrisno akan menjadi Wakil Presiden pada 1988, namun pada waktu itu Soeharto memilih Sudharmono. Barulah lima tahun kemudian, Try Sutrisno diangkat sebagai Wakil Presiden ke-6.
Dalam periode pemerintahan sebagai Wakil Presiden, Try Sutrisno banyak mengurusi bidang pengawasan pembangunan nasional hingga posisinya digantikan oleh B.J Habibie pada tahun 1998. Pengangkatan Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden ke-6 RI didorong oleh kedekatannya dengan Soeharto serta pandangan bahwa ia merupakan figur suksesor potensial jika Soeharto meninggal dunia.





