Pejabat Tinggal Serumah Tanpa Ikatan Pernikahan di Jaman Kolonial Belanda
Kisah pejabat tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan sudah terdengar sejak era kolonial Belanda. Saat itu, membawa istri dari Eropa ke Hindia Belanda dianggap sebagai hal yang mahal dan berisiko tinggi. Oleh karena itu, pejabat Belanda sering melakukan praktik “kumpul kebo” dengan perempuan lokal sebagai pengganti istri. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan “teman hidup” yang terpenuhi melalui hubungan domestik dengan perempuan lokal, khususnya kalangan budak pada masa itu.
Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff dan Gubernur Jenderal VOC Reinier de Klerk adalah contoh pejabat yang hidup bersama perempuan lokal tanpa ikatan pernikahan. Dalam buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (2016), van Imhoff diketahui menerima budak cantik dari Ratu Bone dan hidup bersamanya sebagai “teman hidup”. Sementara de Klerk tinggal bersama budak perempuan di Jawa dan memiliki banyak anak dari hubungan tersebut.
Namun, tidak hanya pejabat tinggi, kalangan elit lain seperti penasihat Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles dan anggota Dewan Hindia Herman Warner Muntinghe juga terlibat dalam praktik serupa. Raffles, yang tidak mempermasalahkan hubungan tak sah bawahannya dengan para budak, menjadikan praktik kumpul kebo lazim saat masa pemerintahannya.
Selain itu, di level bawah, para pegawai, prajurit, hingga pedagang Eropa juga menjalani kehidupan serupa dengan tinggal bersama perempuan lokal tanpa ikatan pernikahan. Masyarakat pada masa itu pun menyebut praktik ini sebagai “kumpul Gerbouw” yang berarti “berbagi atap” dalam bahasa Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa praktik “kumpul kebo” bukan hanya terjadi di kalangan pejabat tinggi, namun juga meluas ke semua lapisan masyarakat pada masa kolonial Belanda.





