Presiden Prabowo Subianto mengajak para menteri untuk tidak menggelar open house mewah selama perayaan Lebaran. Hal ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi masyarakat yang tengah terdampak bencana. Prabowo menekankan pentingnya memberikan contoh perilaku yang sederhana, sebagai bagian dari tanggung jawab sebagai pemimpin.
Salah satu contoh keteladanan yang diambil adalah dari Presiden Soeharto pada tahun 1987. Keluarga Soeharto memutuskan untuk tidak mengadakan open house di kediaman mereka, sebagai bentuk kesederhanaan dan solidaritas dengan keadaan ekonomi yang sulit pada saat itu. Meskipun demikian, tradisi meminta maaf dan memberi maaf tetap berlanjut, tetapi dengan cara yang lebih sederhana tanpa perlu mengadakan acara resmi di kediaman presiden.
Keputusan untuk tidak menggelar open house itu juga diambil dalam konteks kondisi ekonomi yang sulit. Harga minyak global turun, nilai tukar Rupiah melemah, dan pendapatan negara merosot. Pemerintah dipaksa untuk melakukan berbagai langkah penghematan, termasuk menahan gaji PNS selama empat tahun.
Soeharto sendiri mengungkapkan bahwa pada Lebaran tahun 1987, dia dan istri tidak menerima ucapan selamat Lebaran di kediaman mereka. Keputusan ini kemudian diikuti oleh banyak pejabat negara, menegaskan pentingnya mencontohkan kesederhanaan dalam situasi sulit seperti itu. Dengan demikian, perayaan Lebaran tetap berjalan dengan penuh makna tanpa harus menggelar acara mewah.





