Intelijen Keliru Digunakan Presiden AS, Dampak Dunia Terdampak

by

Sebuah bagian dari CNBC Insight, yang secara khusus mengulas sejarah untuk memberikan pemahaman kontemporer dengan mengaitkan kejadian masa lalu yang relevan, memberikan sekilas tentang bagaimana Amerika Serikat mendukung perang di Timur Tengah pada Oktober 1973. Hal ini dimulai dengan peringatan seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS tentang potensi pemanfaatan minyak sebagai alat tekanan politik sebelum konflik terjadi, yang kemudian disangkal oleh komunitas intelijen AS.

Meskipun intelijen menilai kemungkinan embargo minyak sangat kecil, terjadi embargo yang melampaui perkiraan pada saat terjadi Perang Yom Kippur antara Mesir dan Suriah melawan Israel pada Oktober 1973. Hal ini membuat Presiden Richard Nixon memberikan dukungan penuh kepada Israel, tetapi Mesir dan Suriah dengan dukungan negara-negara Arab produsen minyak berhasil memberlakukan embargo terhadap AS dan sekutunya dengan tujuan yang lebih luas.

Dampak embargo ini terasa secara global dengan lonjakan harga minyak yang signifikan, mempengaruhi situasi ekonomi di AS dan Eropa. Tindakan pemerintah melalui restrukturisasi kebijakan suku bunga oleh The Fed menjadi salah satu langkah penting untuk merespons situasi tersebut. Meskipun Perang Yom Kippur hanya berlangsung sebentar, embargo minyak berlangsung hingga setahun ke depan sebelum akhirnya dicabut setelah tercapai kesepakatan politik.

Kejadian tersebut menunjukkan bahwa keputusan berdasarkan intelijen yang keliru dapat memiliki dampak yang jauh melebihi satu negara saja, karena minyak bukan hanya komoditas ekonomi tetapi juga merupakan alat geopolitik yang sangat berpengaruh.

Source link