Pada tanggal 25 Maret 1975, Raja Arab Saudi Faisal bin Abdul Aziz Al Saud ditembak mati di Istana Raja, Riyadh, oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid. Kejadiannya itu masih memicu kontroversi hingga saat ini, dengan spekulasi mengenai kemungkinan infiltrasi intel Israel atau Amerika Serikat dalam lingkaran kekuasaan negara Arab, khususnya Arab Saudi.
Menurut laporan, saat terjadi penembakan, muncul dugaan bahwa Faisal mengalami kelainan mental. Namun, pemerintah membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa Raja Saudi tersebut sehat secara mental. Pangeran Musaid yang merupakan pelaku penembakan akhirnya dihukum pancung pada tanggal 8 Juni 1975.
Berbagai teori konspirasi pun muncul setelah kejadian tersebut. Salah satu teori paling populer adalah keterlibatan Amerika Serikat dalam peristiwa tersebut. Dokumen rahasia yang dirilis oleh CIA mendukung hipotesis ini dan menyebut bahwa Pangeran Musaid dihasut oleh AS.
Meski motif sebenarnya dari pembunuhan Raja Faisal tetap dirahasiakan oleh pemerintah, beberapa teori seperti keterlibatan intelijen Israel dan AS dalam peristiwa tersebut terus berkembang. Raja Faisal merupakan figur penting yang aktif menentang Israel dan AS, terutama dalam isu Palestina.
Beberapa analis mengaitkan pembunuhan raja dengan keinginan Musaid untuk menyingkirkan Faisal yang menjadi hambatan dalam mencapai tujuannya. Namun, banyak informasi yang masih dirahasiakan oleh pemerintah terkait kasus ini, sehingga sejumlah teori konspirasi terus bergulir tanpa kejelasan yang pasti.





