Ketua DPRD Bandung Rela Naik Sepeda Demi Hemat Anggaran
Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua DPRD Bandung, Mohammad Aten Hawadi, menjadi sorotan pada tahun 1958 ketika ia memutuskan untuk melepaskan mobil dinasnya dan beralih ke sepeda sebagai sarana transportasi utama untuk bekerja. Langkah ini diambil sebagai upaya menghemat anggaran pemerintah di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok lainnya.
Situasi Ekonomi Sulit di Tahun 1958
Di akhir 1950-an, kondisi ekonomi Indonesia sedang dalam tekanan berat akibat kenaikan harga BBM yang mencapai Rp60-Rp100 per liter, serta naiknya harga minyak tanah dan beras. Pemerintah pusat menghadapi defisit anggaran hingga Rp6 miliar, sementara pergolakan daerah turut mempengaruhi stabilitas politik dan ekonomi nasional.
Situasi ini juga memengaruhi Kabupaten Bandung, di mana keuangan daerah terbatas sementara kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat terus bertambah. Sebagai Ketua DPRD Bandung, Aten Hawadi seharusnya menikmati fasilitas mobil dinas sedan Plymouth beserta sopir dan biaya operasional yang ditanggung negara. Namun, ia memilih untuk mengembalikan mobil dinas tersebut dan menggunakan sepeda merek ‘Raleigh’ sebagai alternatif.
Tindakan Simbolis dengan Dampak Besar
Langkah ini tidak hanya simbolis, tetapi juga berdampak nyata dalam penghematan anggaran pemerintah. Penggunaan sepeda oleh Aten Hawadi dianggap mampu menghemat dana publik yang signifikan. Keputusannya ini merupakan contoh bagi pejabat publik lainnya bahwa penghematan harus dimulai dari diri sendiri sebelum membebankan masyarakat.
Dengan aksi nyata ini, Aten Hawadi membuktikan keseriusannya dalam mengelola anggaran pemerintah dan menunjukkan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai pemegang jabatan publik. Menjadi sorotan pada masanya, langkah tersebut memberikan inspirasi bahwa setiap individu, termasuk pejabat publik, perlu berkontribusi dalam upaya mengurangi pengeluaran negara.



