Keraton Yogyakarta Dirampok pada Subuh 20 Juni 1812
Di Yogyakarta, pada subuh 20 Juni 1812, kejadian mencekam terjadi ketika tentara Inggris melakukan serangan militer dan merampok harta karun yang dimiliki Keraton Yogyakarta. Kejadian ini sudah berlangsung 214 tahun yang lalu, namun bekasnya masih terasa hingga saat ini.
Menurut sejarawan M.C. Ricklefs, Istana Yogyakarta diserbu, perpustakaan serta arsipnya dirampas, dan sejumlah besar uang milik kerajaan diambil. Sultan Hamengkubuwana II bahkan diturunkan dari takhtanya dan diasingkan ke Penang. Kejadian ini tercatat dalam sejarah Indonesia Modern pada tahun 1999.
Harta Karun yang Raib
Sejarawan Peter Carey mengungkapkan bahwa Inggris membawa pergi harta karun yang tak sedikit. Tidak hanya dokumen dan aset kerajaan, sekitar 800.000 dolar Spanyol juga jatuh ke tangan Inggris, yang pada saat itu bernilai sekitar 150.000 poundsterling atau setara dengan 350 kilogram emas.
Permulaan Konflik
Peristiwa ini bermula setelah Inggris mengambil alih Jawa dari Belanda pada tahun 1811. Sultan Hamengkubuwana II menolak tunduk kepada pemimpin Inggris, Thomas Stamford Raffles, karena menganggap Inggris sebagai ancaman bagi kedaulatan Mataram. Ketegangan antara kedua pihak semakin memuncak ketika Raffles memerintahkan kesultanan untuk mengurangi kekuatan militernya.
Pada subuh 20 Juni 1812, serangan militer dilancarkan oleh Inggris dan berhasil merebut Istana Yogyakarta setelah pertempuran sengit. Pasukan penyerbu berhasil menerobos dan menguasai pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta. Sejarah mencatat peristiwa tersebut sebagai penjarahan terbesar terhadap keraton oleh pasukan Eropa pada masa itu.
Dampak Kejadian
Operasional Kesultanan Yogyakarta terhambat karena kehilangan sebagian besar Harta Karun. Para bangsawan Jawa juga merasakan pukulan besar akibat kejadian ini. Lebih dari dua abad berlalu, sejumlah barang berharga dari Keraton Yogyakarta masih tersebar di berbagai lembaga di Inggris, termasuk di British Library.



