Transformasi Singapura: Kisah Gadis Cimahi yang Mengubah Total.

by

Desember 1950: Kerusuhan karena Sengketa Hak Asuh Gadis Kelahiran Cimahi

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu dengan lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia – Desember 1950 menjadi momen kelam bagi Singapura akibat kerusuhan massal yang dipicu oleh sengketa hak asuh seorang gadis kelahiran Cimahi. Peristiwa ini menunjukkan betapa kompleksnya persoalan agama dan kebangsaan pada masa itu.

Sengketa Hak Asuh Maria Hertogh

Maria Hertogh, gadis keturunan Belanda yang dibesarkan dalam keluarga Melayu-Muslim, menjadi pusat perhatian saat itu. Konflik bermula dari perebutan hak asuh Maria oleh ibu kandungnya dan Aminah, perempuan Melayu yang merawat Maria sejak kecil.

Situasi semakin rumit dengan campur tangan pemerintah kolonial Inggris yang memutuskan Maria harus kembali ke Belanda. Keputusan ini memancing kemarahan warga Muslim Melayu yang merasa keputusan itu melanggar hak mereka.

Kerusuhan Massal di Singapura

Pada 11 Desember 1950, Pengadilan Tinggi Singapura memutuskan untuk mengembalikan Maria kepada ibu kandungnya di Belanda. Hal ini memicu aksi demonstrasi besar-besaran di Singapura yang berujung pada kerusuhan.

Ribuan massa marah mengamuk di jalanan, merusak fasilitas umum, kantor pemerintahan, bahkan kendaraan milik warga Eropa. Situasi semakin tak terkendali dengan adanya tembakan dari polisi dan kerugian mencapai ribuan dolar.

Kerusuhan ini meninggalkan korban, baik dalam hal materi maupun jiwa. Tidak kurang dari 18 orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat kejadian tersebut. Hingga saat ini, kasus Maria Hertogh tetap menjadi kenangan kelam dalam sejarah modern Singapura yang menggambarkan kompleksitas hubungan antaragama dan antarbangsa.

Source link