Pulau Natal: Wilayah Berharga yang Hilang dari Tangan Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia – Sejarah mencatat Pulau Natal (Christmas Island) sebagai wilayah yang berpotensi menjadi bagian Indonesia, namun kini justru berada di bawah kedaulatan Australia. Pulau ini dikenal menyimpan kekayaan fosfat bernilai tinggi, namun sayangnya, Indonesia kehilangan kesempatan untuk menguasainya.
Penemuan Pulau Natal
Berdasarkan riset, pelaut Belanda pertama kali menemukan Pulau Natal pada tahun 1618. Namun, pada saat itu Belanda tidak menunjukkan minat serius untuk mengembangkan atau menguasai wilayah tersebut. Bahkan kunjungan pelaut Belanda ke pulau tersebut pada tahun 1697 hanya berlangsung singkat tanpa tindak lanjut.
Pulau Natal ditemukan kaya akan cadangan fosfat pada tahun 1891 oleh dua tokoh Inggris, John Murray dan George Clunies-Ross. Kaya akan fosfat ini yang kemudian mengubah nasib Pulau Natal, karena fosfat merupakan komoditas berharga sebagai bahan utama pupuk.
Kehilangan Kesempatan Indonesia
Inggris kemudian memperkuat penguasaannya atas pulau tersebut dan pada akhirnya mewariskannya kepada Australia pada abad ke-20. Jika Belanda sejak awal mengklaim dan mengelola Pulau Natal, besar kemungkinan pulau ini akan menjadi bagian wilayah Indonesia setelah kemerdekaan. Hal ini berarti Indonesia kehilangan tambahan wilayah dan sumber daya alam berharga yang kini berada di tangan Australia.
Pulau Natal, yang letaknya sangat dekat dengan Indonesia, seharusnya menjadi bagian Indonesia jika tidak terlepas dari kendali Belanda dan kemudian Inggris. Kesempatan emas untuk memiliki wilayah bertambah dan tambahan sumber daya alam bernilai tinggi pada akhirnya harus hilang dari tangan Indonesia.



