Prabowo Singgung Kekayaan Belanda dari Nusantara dalam Sejarah
Presiden Prabowo Subianto menyoroti masa lalu Belanda yang memperoleh kemakmuran dari Nusantara pada era 1500-1800 Masehi. Prabowo menegaskan bahwa kekayaan besar Belanda tidak lepas dari penguasaan wilayah yang kini merupakan bagian dari Republik Indonesia.
Jejak Sejarah Kekayaan Belanda dari Nusantara
Pernyataan Prabowo mengingatkan pada fakta sejarah bahwa keberhasilan ekonomi Belanda didukung oleh eksploitasi sumber daya Nusantara. Meski tidak ada data pasti mengenai besarnya keuntungan yang diperoleh Belanda dari Indonesia, namun catatan sejarah menunjukkan akumulasi kekayaan yang signifikan dari tanah jajahan.
Pada awal abad ke-17, VOC mendirikan kantor dagang pertamanya di Banten pada 1603. Perkembangan signifikan terjadi ketika VOC menguasai Ambon dari Portugis pada 1605 dan menjadikannya pusat perdagangan di wilayah timur.
Kesuksesan VOC dalam Eksploitasi Nusantara
Pada pertengahan abad ke-17, VOC menjadi kekuatan dagang besar dengan pusat operasional di Batavia. Perusahaan ini memiliki armada dagang dan perang besar, serta jumlah pegawai yang mencapai puluhan ribu. VOC dikenal sebagai pelopor perusahaan terbuka dengan dividen yang tinggi.
Menurut laporan Visual Capitalist pada 2017, nilai VOC pada tahun 1637 mencapai 78 juta gulden atau setara dengan triliunan dolar saat ini, melebihi nilai perusahaan teknologi modern. Namun, perkiraan sejarawan Lodewijk Petram menyebutkan kekayaan VOC berada di kisaran triliun dolar pada abad ke-17. Meski bangkrut pada 1799, pemerintahan kolonial Belanda terus memanfaatkan sumber daya Nusantara.
Dampak Kolonialisme Belanda bagi Nusantara
Salah satu contoh dampak kolonialisme Belanda terlihat pada perkebunan tembakau Deli di Sumatera Utara pada 1864-1938. Hasil penjualan dari perkebunan ini mencapai miliaran dolar pada masa itu. Kekayaan ini mendukung pembangunan Belanda, tetapi juga diiringi dengan praktik penindasan di Nusantara.
Kolonialisme Belanda di Nusantara meninggalkan warisan berupa kekayaan bagi penjajah, namun pemiskinan dan penderitaan bagi masyarakat yang dijajah.



