Cerita Wapres RI Tidak Bayar Pajak dan Listrik Rumah

by

Muhammad Hatta: Dari Pejabat Ternama Hingga Kesulitan Keuangan

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu dengan lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Pejabat biasanya identik dengan kehidupan yang serba berkecukupan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi mantan pejabat dan Wakil Presiden RI Mohammad Hatta. Setelah pensiun dari pemerintahan, Hatta yang lahir hari ini 124 tahun lalu justru kesulitan membayar berbagai tagihan, termasuk listrik, air, dan pajak mobil. Masalah finansial yang dihadapi Hatta memberikan gambaran lain tentang kehidupan seorang pejabat pemerintah.

Kondisi Keuangan Muhammad Hatta Pasca-Pensiun

Kesulitan keuangan yang dialami Hatta setelah mundur dari pemerintahan pada 1957 menjadi sorotan. Mengutip biografi Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman (2010), Hatta mengaku penghasilannya sebagai pensiunan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tagihan-tagihan rutin seperti listrik, gas, air minum, bahkan pajak mobil menjadi beban yang sulit diatasi oleh Hatta.

Sebagai pensiunan, Hatta hanya menerima sumbangan sebesar Rp1.000 per bulan, jumlah yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini membuatnya merasa prihatin dan bahkan mengungkapkan keheranannya kepada Menteri Urusan Anggaran Negara.

Melawan Kesulitan dengan Kejujuran dan Integritas

Hatta tidak terlihat merasa malu atau menyembunyikan kondisinya yang sulit kepada publik. Ia bahkan dengan tegas menyampaikan kesulitannya kepada Direktur Jenderal Pos, Telegraf, dan Telepon terkait pembayaran tagihan teleponnya. Kejujuran dan integritas Hatta dalam menghadapi kesulitan keuangan adalah contoh yang patut dijadikan panutan.

Kondisi perekonomian Indonesia yang memburuk pada saat itu membuat Hatta semakin merasakan ketidakcocokan dengan realitas sosialisme yang selama ini digaungkan pemerintah. Penghidupan masyarakat yang semakin sulit dibandingkan dengan masa pendudukan Belanda dan Jepang memperumit kondisi.

Menjalani Hidup Sederhana dan Penuh Kehormatan

Putri Hatta, Rahmi, sempat memiliki ide kreatif untuk mengumpulkan uang dengan cara yang kurang terhormat. Namun, Hatta menegur dan menolak ide tersebut karena tidak sesuai dengan nilai-nilai integritas dan martabat. Meski mengalami kesulitan keuangan, Hatta tetap menjalani hidup dengan sederhana dan teguh pada prinsip.

Upaya Ali Sadikin untuk membantu Hatta ketika kesulitan finansial menjadi bukti bahwa kebaikan dan empati tak mengenal jabatan. Bantuan yang diberikan kepada Hatta sebagai satu-satunya proklamator bangsa menunjukkan bahwa solidaritas adalah nilai luhur yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat Indonesia.

Source link