Perkembangan global dewasa ini memperlihatkan bahwa arus keuangan, informasi, dan barang yang melintas batas negara dapat menimbulkan risiko serius bagi banyak negara. Fenomena inilah yang dipertegas oleh Farrell dan Newman (2019), dan kini terbukti nyata melalui perang-perang terbatas yang menjadi sorotan dunia, seperti konflik di Ukraina dan Iran. Kedua perang ini berdampak luas, tidak hanya secara lokal di kawasan konflik, tetapi telah mengguncang ekonomi dan rantai pasok global. Perang di Ukraina menyebabkan gangguan besar pada distribusi pangan dunia, sementara konflik Iran memunculkan gejolak di sektor energi. Gangguan tersebut bukan sekadar soal berkurangnya produksi, tetapi terutama karena adanya disrupsi pada jalur distribusi—baik akibat ancaman terhadap infrastruktur kritis seperti pelabuhan atau selat, maupun peningkatan risiko yang membuat perusahaan menahan pengiriman.
Kasus di Selat Hormuz menjadi contoh nyata bagaimana serangan terhadap beberapa kapal dan ancaman ranjau maupun rudal telah menaikkan premi asuransi pelayaran, membuat banyak perusahaan memilih menunda perjalanan. Hasil keputusan bisnis yang tampaknya sederhana justru punya konsekuensi strategis global: aliran minyak yang biasa lewat turun drastis dari 20 juta menjadi hanya 2,7 juta barel per hari selama Maret–Mei 2026. International Energy Agency bahkan menyebut ini sebagai gangguan pasokan terbesar sepanjang sejarah pasar minyak global. Iran tidak perlu benar-benar menutup selat itu—cukup membuat risiko terasa terlalu besar untuk diambil.
Mekanisme serupa terlihat saat rantai pasok pangan global terdampak invasi Rusia ke Ukraina. Sebelum perang, Ukraina mengekspor lebih dari 90 persen produknya via Laut Hitam, tetapi gangguan distribusi memaksa pengalihan ke jalur darat dan pelabuhan tetangga yang hanya bisa menampung sebagian kecil dari kapasitas asal. Gangguan ini menyebar dari distribusi ke produksi, karena pasokan pupuk ikut terpengaruh oleh peran Rusia dan Belarus sebagai eksportir bahan baku pupuk global. Dampaknya, masalah produksi pangan tak hanya bergantung pada hasil panen, namun juga input dan kapasitas distribusi serta jalur alternatif yang ada.
Pelajaran penting dari dua perang tadi adalah bahwa globalisasi ekonomi tidak menghapus titik-titik konsentrasi atau simpul kritis dalam jaringan rantai pasok dunia. Jika satu simpul menjadi dominan dan sulit digantikan, gangguan pada titik itu akan dirasakan secara luas dan mengancam perekonomian di banyak negara, tidak terbatas hanya pada pelaku perang. Farrell dan Newman menyebut fenomena ini sebagai efek titik cekik (chokepoint effect). Dampaknya bisa terjadi pada berbagai jenis jaringan—bukan hanya fisik seperti pelabuhan atau selat, tapi juga jaringan digital, keuangan, pembayaran, semikonduktor, perangkat lunak, hingga kepemilikan teknologi. Fishman (2025) memperlihatkan bagaimana simpul-simpul ini dijadikan instrumen dalam perang ekonomi melalui sanksi, pemutusan akses, atau pelarangan asuransi dan pembiayaan.
Walaupun esensi perang tetap sebagai alat pencapaian politik menurut Clausewitz, kini cara-cara perang berlangsung dan jangkauannya menghadirkan tantangan baru. Serangan fisik mungkin hanya terjadi di wilayah Ukraina atau Iran, tetapi efek domino dari gangguan distribusi pangan atau energi menjalar hingga ke negara-negara lain, termasuk Indonesia yang amat tergantung pada impor gandum dan energi. Negara yang tidak sedang berperang tetap bisa terkena imbas dari konflik tersebut. Kenyataan ini menuntut perubahan cara pandang dalam perencanaan pertahanan nasional, tidak cukup sekadar mempersiapkan diri terhadap serangan langsung.
Seandainya Indonesia menjadi sasaran, musuh bisa memilih menyerang simpul-simpul vital seperti pelabuhan, terminal energi, jaringan data, atau pusat distribusi, guna melemahkan daya tahan nasional. Namun, perang yang terjadi di kawasan lain pun bisa berakibat pada fungsi-fungsi krusial di dalam negeri karena disrupsi rantai pasok global. Gangguan pangan akibat konflik Ukraina serta masalah energi dari perang di Iran membuktikan bahwa kerapuhan tidak hanya ada di dalam negeri, melainkan bisa bersumber dari luar. Bahkan, kesiapan militer sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar, makanan, transportasi, atau teknologi—semua itu rawan terkena pengaruh dari medan konflik global.
Oleh karena itu, strategi pertahanan tidak cukup hanya menghitung kekuatan lawan atau kemungkinan serangan terbuka. Perlu pergeseran dari pendekatan sektoral ke fungsional: mengenali apa saja fungsi vital yang harus tetap berjalan, menentukan simpul mana saja yang tak mudah digantikan, serta seberapa lama negara bisa bertahan jika simpul tersebut lumpuh. Adaptasi yang diperlukan meliputi langkah perlindungan terhadap simpul penting, memastikan alternatif jalur atau kapasitas cadangan tersedia, serta mempercepat pemulihan setelah terjadi gangguan besar. Ketahanan tidak otomatis didapatkan dari swasembada penuh, jika produksinya tetap tergantung pasokan input luar atau distribusinya terlalu terpusat.
Indonesia sebagai negara kepulauan punya tantangan spesifik: ketahanan nasional sangat tergantung pada konektivitas antarpulau. Kerentanan bukan hanya pada selat dan pelabuhan, melainkan juga pada kabel bawah laut, pusat data, terminal energi, gudang pangan, sistem pembayaran, dan jalur logistik lainnya. Pelajaran dari perang di Ukraina dan Iran bukanlah imbauan untuk memutus interdependensi, melainkan memahami bahwa jaringan saling ketergantungan dapat berubah menjadi titik lemah saat konflik global mencuat. Maka, tugas pertahanan adalah memastikan fungsi-fungsi vital tetap terjaga meski sumber daya atau simpul andalan terkena gangguan.
Sebagaimana seorang anak Indonesia yang bercita-cita menjadi dokter namun hanya punya satu buku lusuh untuk belajar, akses terhadap fungsi vital menentukan masa depannya. Ketahanan dan kemajuan bangsa sangat bergantung pada kemampuan menyediakan jalur alternatif, cadangan pasokan, dan perlindungan atas simpul-simpul kritis agar guncangan global, tak mengubah harapan jadi kehampaan. Aksi nyata diperlukan agar semua anak – dan bangsa ini secara keseluruhan – dapat membuka jendela masa depan yang lebih luas dengan kesiapan yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko global.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas





