Superhero Nusantara: Meta Panji Tantang Dominasi Manga Global

by

Indonesia tidak kekurangan cerita untuk melahirkan karakter budaya populer. Tantangannya adalah menghidupkan kembali tokoh-tokoh tersebut agar dapat dipahami, disukai, dan diikuti oleh generasi yang berinteraksi dengan cerita melalui film, animasi, komik, gim, media sosial, hingga komunitas digital.

Gagasan itu menjadi salah satu dasar pengembangan Meta Panji, novel yang membawa cerita Panji ke dalam perspektif generasi digital. Penulisnya, Reno Halsamer, melihat Panji bukan sekadar kisah klasik, melainkan pintu masuk untuk membicarakan masa depan karakter Nusantara di tengah kuatnya pengaruh budaya global.

Reno dikenal sebagai budayawan dan pegiat museum. Ia juga merupakan Founder D’Topeng Kingdom Group (DKG) Foundation dan Minilemon Studio. Menurut dia, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan artefak atau mendokumentasikan cerita. Warisan budaya harus mampu berkomunikasi dengan generasi yang terus berubah.

“Kita memiliki begitu banyak cerita dan karakter dari Nusantara. Persoalannya, bagaimana cerita itu bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan generasi sekarang, bukan hanya menjadi sesuatu yang mereka dengar ketika belajar sejarah,” ujar Reno, Rabu (30/9/2026).

Panji dan tantangan membangun karakter

Cerita Panji memiliki sejarah panjang. Kisah tersebut berkembang di Jawa dan menyebar ke sejumlah wilayah Asia Tenggara dalam berbagai versi serta medium seni. Naskah-naskah Panji bahkan mendapat pengakuan UNESCO sebagai Memory of the World pada 2017.

Namun, pengakuan sejarah belum otomatis menjadikan Panji sebagai ikon budaya populer. Reno menilai, Indonesia justru menghadapi persoalan dalam mengembangkan kekayaan narasi menjadi karakter yang memiliki ekosistem penggemar dan mampu bertahan lintas zaman.

“Kita tidak kekurangan cerita. Kita punya ribuan cerita. Tetapi pertanyaannya, apakah kita mampu membuat karakter-karakter itu hidup kembali dan dicintai oleh generasi muda?” katanya.

Bagi Reno, membangun karakter tidak berhenti pada perubahan wajah atau kostum. Karakter harus memiliki identitas, latar, konflik, hubungan antartokoh, serta dunia cerita yang membuat audiens ingin mengikuti perjalanannya.

“Kalau kita bicara karakter, kita tidak hanya bicara wajah atau kostumnya. Kita bicara tentang siapa dia, dunianya seperti apa, nilai yang dibawanya, konfliknya apa, dan mengapa orang ingin mengikuti perjalanannya,” jelasnya.

Modernisasi tanpa menghapus akar budaya

Meta Panji tidak diposisikan semata-mata sebagai penceritaan ulang kisah lama. Karya ini menjadi upaya menguji cara warisan budaya memasuki ekosistem budaya populer tanpa kehilangan identitas. Proses tersebut menuntut keseimbangan antara riset budaya dan kreativitas, terutama karena perpindahan ke medium modern dapat memengaruhi visual, penafsiran, dan cara bercerita.

“Yang kita modernisasi adalah cara menyampaikannya. Bukan berarti akar budayanya kita hilangkan,” tegas Reno.

Ia juga tidak melihat Panji harus bersaing langsung dengan karakter global atau dibuat menjadi “Marvel versi Indonesia”. Menurutnya, kekuatan Panji justru terletak pada identitasnya sendiri.

“Jangan berpikir bahwa kita harus membuat Panji menjadi seperti karakter dari luar. Panji harus tetap menjadi Panji. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana membuat Panji bisa dipahami, disukai, dan relevan bagi generasi sekarang,” kata Reno.

Untuk menjadi fenomena budaya, sebuah karakter membutuhkan lebih dari satu karya. Diperlukan kreator, pembaca, penonton, komunitas, serta karya turunan yang memungkinkan cerita berkembang dan melahirkan fandom.

Latar belakang Reno sebagai pegiat museum turut membentuk pandangannya. Ia menilai museum bukan hanya tempat menyimpan benda masa lalu, tetapi juga ruang yang mempertemukan sejarah dengan imajinasi masa depan.

“Benda budaya tidak cukup hanya kita simpan. Kita harus membuat generasi berikutnya punya alasan untuk datang, melihat, bertanya, kemudian merasa bahwa warisan itu juga bagian dari mereka,” ujarnya.

Menurut Reno, Panji hanyalah salah satu contoh dari banyak tokoh Nusantara yang berpotensi dikembangkan. Pekerjaan berikutnya mencakup riset, pembangunan dunia cerita, pemilihan medium, dan pembentukan komunitas agar karakter-karakter tersebut memiliki kehidupan yang panjang.

Source link