Pada malam Rabu, 14 Juli 1982, Kapten Singapore Airlines SQ 21A mengemudikan pesawat Boeing 747 dari Singapura menuju Sydney tanpa mengetahui letusan Gunung Galunggung di bawah sana. Meskipun tidak ada tanda bahaya, tiba-tiba dua dari empat mesin mati ketika pesawat melintasi langit Jawa Barat. Dengan cepat, sang kapten dan kopilot mengambil alih kendali, menurunkan ketinggian, dan berhasil mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Insiden ini tidaklah unik, karena tiga minggu sebelumnya Kapten Eric Moody dari British Airways mengalami situasi yang lebih ekstrem ketika pesawatnya tertutup abu karena letusan Gunung Galunggung. Dengan keempat mesin mati, Moody berhasil mendarat dengan selamat di Halim setelah keajaiban di mana dua mesin hidup kembali menjelang pendaratan. Meskipun terjadi pada waktu berbeda, kedua insiden ini disebabkan oleh letusan Gunung Galunggung pada 1982.
Penyebab letusan Gunung Galunggung tersebut diawali dengan kesalahan prediksi dari pemerintah yang mengira gunung itu sudah tidak aktif. Mitigasi terhadap letusan tidak dilakukan karena keyakinan bahwa gunung telah “tidur.” Akibat dari letusan tersebut membuat banyak warga mengungsi, kerugian ekonomi, dan dampak luas bagi kota-kota di sekitar Gunung Galunggung.
Sebagai bagian dari sejarah, letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982 meninggalkan jejak dampak yang signifikan bagi masyarakat maupun penerbangan yang secara tidak langsung menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana alam. Kini, Gunung Galunggung telah kembali “tidur lelap,” namun belum ada yang tahu kapan ia akan kembali aktif setelah puluhan tahun. Dengan demikian, peristiwa tersebut tetap menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pengamatan dan mitigasi bencana gunung berapi.





