Malahayati, seorang diplomat ternama dari Aceh yang dikenal sebagai panglima laut, juga menjalankan misi diplomatik penting bagi Kesultanan Aceh. Dalam sejarah, perannya dalam hubungan luar negeri membuatnya diakui sebagai seorang diplomat dalam arti modern. Putri Laksamana Mahmud Syah, Malahayati menunjukkan minat besar dalam dunia militer sejak remaja. Lulus dari Akademi Militer Kesultanan Aceh dengan semua pengajarnya berasal dari Turki, Malahayati kemudian dipercaya memegang jabatan penting. Pada tahun 1590-an, dia bahkan menjabat sebagai laksamana atau panglima perang Angkatan Laut Kesultanan Aceh.
Sebagai seorang diplomat, Malahayati dikenal bersikap ramah dan luwes dalam berunding. Ada dua momen penting yang menegaskan kapasitas diplomatiknya. Pertama, ketika berhadapan dengan Belanda dan Cornelis de Houtman. Malahayati berhasil mengalahkan Cornelis de Houtman dalam sebuah duel dan menangkap Frederick de Houtman sebagai sandera. Momen kedua adalah saat berdiplomasi dengan Inggris. Ratu Elizabeth I mengenal Malahayati sebagai juru runding yang berpengalaman, sehingga mengutus James Lancaster untuk membuka hubungan dagang dengan Aceh.
Namun, takdir tragis menimpa Malahayati saat dia tewas dibunuh oleh tentara Portugis di Teluk Krueng Raya pada tahun 1606. Kontribusinya dalam perjuangan melawan bangsa asing diakui oleh Presiden Joko Widodo yang memberikan gelar Pahlawan Nasional padanya pada November 2017. Kisah Malahayati menjadi bagian dari sejarah penting Indonesia yang masih diperbincangkan hingga saat ini.





