Sejarah Beras Tekad di Indonesia: Jejak Beras Berkualitas

by

Sejarah perberasan di Indonesia begitu beragam, khususnya ketika membicarakan beras ‘Tekad’. Pada tahun 1968, Indonesia menghadapi masalah serius akibat kekeringan global yang mengakibatkan stok pangan, termasuk beras, menurun secara signifikan. Situasi ini membuat Indonesia, yang masih bergantung pada impor beras, merasakan getaran yang cukup kuat.

Menurut penelitian “Technology, Farmers’ Organization and Rice Self-sufficiency in Indonesia” (1989) oleh I Ketut Nehen, sejak tahun 1965, volume impor beras Indonesia terus meningkat secara drastis. Pada tahun 1965, impor beras mencapai 140 ribu ton, tahun berikutnya naik menjadi 240 ribu ton, dan pada tahun 1967 melonjak hingga 350 ribu ton.

Ketergantungan Indonesia pada beras tidak dapat dipungkiri, dan dalam kondisi genting tersebut, pemerintah memperkenalkan beras ‘Tekad’. ‘Tekad’ sendiri merupakan singkatan dari tela (ubi jalar), kacang, dan djagung (ejaan lama), yang merupakan hasil olahan dari ketiga bahan tersebut.

Meskipun beras Tekad bukan inisiatif pemerintah, namun diprakarsai oleh Mantrust, Inc. Di sisi lain, ekonom seperti Emil Salim memandang produksi beras Tekad sebagai solusi yang tidak masuk akal. Meski begitu, pabrik beras Tekad didirikan di Bandung dan Yogyakarta pada tahun 1968.

Meskipun awalnya beras Tekad dirancang sebagai alternatif untuk menghadapi krisis pangan, namun masyarakat kesulitan mengaksesnya karena harganya yang mahal tanpa subsidi. Lambat laun, ‘Tekad’ pun menghilang dari pasar karena masyarakat cenderung menggunakannya untuk keperluan selain sebagai makanan pokok.

Kisah beras ‘Tekad’ merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang menarik untuk diungkap dan memberikan pembelajaran bagi masa kini. Dengan memahami tantangan masa lalu, kita dapat memperoleh nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Source link