Kumpul Kebo, Praktik Tidak Resmi yang Dilakukan Oleh Pejabat di Jawa
Penelitian menunjukkan bahwa praktik hidup bersama tanpa menikah atau dikenal dengan kumpul kebo semakin sering terjadi di Indonesia, terutama di wilayah timur. Fenomena ini muncul karena semakin banyak anak muda yang menganggap pernikahan terlalu normatif dan dipenuhi berbagai aturan. Sementara itu, kumpul kebo dipandang sebagai bentuk hubungan yang lebih murni dan tulus, tanpa keterikatan formal.
Kumpul kebo bukanlah fenomena baru di Indonesia. Praktik ini bahkan sudah ada sejak masa kolonial, terutama di kalangan pejabat Belanda yang tinggal di Hindia Belanda. Pada masa itu, banyak pejabat tinggi dan warga Belanda yang menjalani hidup bersama perempuan lokal tanpa ikatan pernikahan resmi.
Hal ini terjadi karena membawa istri dari Eropa ke Hindia Belanda memerlukan biaya yang besar dan mengandung risiko yang tinggi. Sebagai gantinya mereka membangun hubungan rumah tanggal dengan perempuan lokal, yang sebagian besar berasal dari kalangan budak. Contoh dari praktik kumpul kebo ini dapat ditemukan pada kehidupan beberapa Gubernur Jenderal VOC.
Sebenarnya, tindakan para elit hanyalah puncak gunung es. Di level bawah, para pegawai, prajurit, hingga pedagang Eropa juga kerap menjalani kehidupan serupa, tinggal bersama perempuan lokal tanpa ikatan nikah. Masyarakat menyebut praktik ini sebagai “kumpul Gerbouw”.
Naskah ini bertujuan untuk mengungkap sejarah praktik kumpul kebo yang dilakukan oleh para pejabat di Jawa. Lewat kisah ini, kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai kehidupan dari masa lampau masih memengaruhi dan relevan hingga saat ini.





