Teror Harimau di Jakarta: 800 Pemburu Beraksi

by

Pada masa lalu, warga Batavia tidak hanya hidup di bawah tekanan kolonial, tetapi juga harus berhadapan dengan ancaman harimau Jawa yang meneror. Sejarah mencatat bahwa serangan harimau terhadap manusia di Batavia cukup sering terjadi antara tahun 1633-1687. Kebun tebu menjadi lokasi favorit harimau karena banyaknya mangsa, seperti babi hutan. Ancaman harimau ini tidak hanya menimpa penduduk lokal, tetapi juga menewaskan warga Eropa pertama pada tahun 1668. Akibatnya, VOC (Perusahaan Hindia Timur Belanda) memobilisasi ratusan pemburu untuk menumpas ancaman harimau tersebut.

Perburuan harimau dilakukan secara masif dengan insentif berupa uang tunai bagi siapa pun yang berhasil menangkap harimau. Pelbagai upaya dilakukan untuk mengurangi populasi harimau, namun akibat dari perburuan terus menerus ini malah mengakibatkan penurunan drastis populasi harimau Jawa. Habitat harimau terus menyusut akibat pembukaan lahan perkebunan, menyebabkan konflik antara manusia dan harimau semakin tak terhindarkan.

Sejak harimau Jawa dikategorikan sebagai hewan yang punah pada tahun 2008 oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), laporan penampakan harimau Jawa tanpa bukti yang kuat terus beredar. Namun, pada tahun 2019, beberapa warga di desa Cipendeuy, Sukabumi Selatan, melaporkan melihat harimau Jawa dan menemukan tanda-tanda seperti jejak kaki, cakaran, dan bulu harimau. Meskipun status harimau Jawa sebagai hewan punah, masyarakat tetap mengklaim masih melihat dan mendeteksi keberadaan hewan langka ini.

Source link