Seorang pelajar SMA dengan inisial S mengalami kejadian pelecehan seksual oleh seorang pria di Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) Jatinegara, Jakarta Timur. Kejadian tersebut terjadi ketika S pulang dari sekolahnya di Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur. S mengaku bahwa setiap hari dia melalui akses tersebut untuk pulang sekolah. Saat turun dari Jaklingko di bawah JPO, S melihat seorang pria yang sedang menunjukkan alat kelaminnya. Pelaku kemudian terlihat tersenyum sambil memperbaiki pakaian.
Saat S merekam video kejadian tersebut, pelaku cepat-cepat mengenakan kembali celananya. S kemudian berlari menuju pintu masuk bus Transjakarta untuk meminta bantuan. Namun, petugas perempuan di halte tersebut hanya diam sambil bermain handphone dan tertawa setelah S melaporkan kejadian pelecehan. Ayah S, Abdul Rasyid, merasa kecewa dengan sikap petugas tersebut dan menyatakan bahwa anaknya mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
Anak Abdul tidak mau kembali ke sekolah dan masih terpengaruh oleh kejadian tersebut. Dia mencurigai pelaku yang berperilaku aneh seperti orang gila. Kasus ini juga menimbulkan kekecewaan terhadap petugas Transjakarta yang diharapkan memberikan bantuan ketika kejadian tersebut terjadi. Kejadian ini semakin menunjukkan perlunya kesadaran dan tindakan tegas terhadap pelecehan seksual di ruang publik.





