Persiapan menyambut Tahun Baru kerap diwarnai hiruk-pikuk kembang api dan petasan. Namun, di balik gegap gempita tersebut, sejarah Indonesia mencatat kisah tragis yang berujung maut. Peristiwa memilukan itu terjadi di Sidoarjo dan Batavia (kini Jakarta), ketika pembuat petasan tewas akibat ledakan dari hasil karyanya sendiri saat bersiap menghadapi pergantian tahun. Peristiwa pertama terjadi pada suatu Senin sore di Sidoarjo. Catatan koran de Sumatra Post (14 Desember 1923) menyebut, tragedi diawali kebakaran di rumah seorang pembuat kembang api keturunan Tionghoa. Api muncul ketika persediaan bubuk mesiu yang disimpan di rumah tersebut terbakar dengan penyebab yang tidak diketahui.
Seketika, api yang menyambar bubuk mesiu memicu ledakan beruntun. Kembang api yang telah selesai dibuat ikut meledak, menciptakan suasana mencekam di dalam rumah. Semua orang panik dan berlarian, tetapi terlambat. Api dan ledakan melahap siapa pun yang berada di dalam bangunan, termasuk sang pembuat petasan. Salah satu pelayan mengalami luka sangat parah hingga kakinya hancur total. Warga sekitar segera berdatangan memberi pertolongan. Bantuan disebut tiba dengan cepat setelah kebakaran terjadi. Namun, luka bakar yang diderita sang pembuat petasan terlalu parah. Dia akhirnya mengembuskan napas terakhir pada sore hari yang sama, tak lama setelah insiden berlangsung. Selain merenggut nyawa, kebakaran tersebut nyaris menghanguskan seluruh rumah yang juga difungsikan sebagai tempat produksi kembang api.
Tragedi serupa juga terjadi di Batavia. Menjelang pergantian tahun 1900, koran De Locomotief (Desember 1900) melaporkan insiden yang menimpa seorang warga Tionghoa bernama Ing Tjoan. Rumahnya yang dijadikan pabrik petasan meledak saat dia tengah melakukan uji coba kembang api berukuran besar. Ledakan terjadi akibat bahan berbahaya yang digunakan, dengan sebab yang tidak diketahui. Ing Tjoan mengalami luka bakar parah dan akhirnya meninggal dunia akibat insiden tersebut. Tragedi ini menunjukkan kemeriahan Tahun Baru tak selalu datang tanpa risiko. Sejarah mencatat, di balik dentuman petasan dan cahaya kembang api, terdapat bahaya laten yang bisa merenggut nyawa jika keselamatan diabaikan.





