Imam Syafei atau yang akrab disapa Bang Pi’ie, dikenal sebagai salah satu tokoh yang menggabungkan dua sisi yang kontras dalam hidupnya. Lahir di tahun 1923, Bang Pi’ie tumbuh sebagai seorang anak yang keras kepala namun sangat nasionalis. Penderitaan yang dia alami di masa kecil membentuknya menjadi seorang preman yang berhati besar namun juga pejuang kemerdekaan.
Kelompok 4 Sen adalah hasil dari kreativitas Bang Pi’ie. Kelompok ini menjaga keamanan pasar dengan cara yang cukup unik, yaitu dengan memungut sejumlah uang sebagai jaminan keamanan. Meskipun terkesan seperti preman, sistem ini terbukti cukup efektif dalam menjaga ketertiban pasar.
Kesuksesan Bang Pi’ie dalam mengalahkan jagoan besar di Senen membuatnya dikenal sebagai penguasa wilayah tersebut. Namun, saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Bang Pi’ie memilih bergabung dalam perjuangan melawan penjajah Belanda. Bersama dengan Pasukan Barisan Bambu Runcing yang kemudian berganti nama menjadi Laskar Rakyat Jakarta, Bang Pi’ie berhasil mengusir pasukan Belanda dari tanah air.
Meskipun menghadapi beberapa hambatan, seperti kekecewaan beberapa pengikutnya karena tidak dapat diterima sebagai tentara, Bang Pi’ie tetap berkomitmen dalam perjuangannya. Ia bahkan mendirikan organisasi baru bernama Cobra untuk menampung mereka yang tidak diterima. Keberhasilannya dalam menjaga keamanan di Jakarta membuatnya diangkat sebagai Menteri Urusan Keamanan Jakarta.
Namun, kejayaan Bang Pi’ie tidak berlangsung lama. Setelah masa Soeharto berkuasa, ia ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam G30S/PKI dan dipenjara selama delapan tahun. Meskipun spekulasi muncul bahwa penangkapannya terjadi karena kesetiaannya pada Soekarno, tidak ada bukti kuat yang menjeratnya.
Setelah bebas pada 1975, Bang Pi’ie menghadapi tantangan-tantangan baru. Namun, hidupnya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ia pun menghembuskan napas terakhirnya tak lama setelah bebas, namun jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa tetap dikenang sebagai seorang pejuang sejati.





