Mengabaikan Ahli Berakhir Tragis saat Tsunami PLTN Jepang

by

Pada hari ini, tepat 15 tahun yang lalu, Jepang mengalami gempa besar dengan kekuatan M9 yang diikuti oleh tsunami setinggi 40 meter. Tragedi ini mengakibatkan kerusakan parah pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima, yang kemudian memicu krisis radiasi dan memaksa puluhan ribu penduduk untuk mengungsi. Bukan hanya tsunami yang menewaskan ribuan orang, tapi menurut laporan, ada juga kasus kematian akibat radiasi nuklir.

Krisis ini menimbulkan pertanyaan tentang budaya kerja yang terlalu hierarkis di Jepang. Kultur “asal bapak senang” atau ABS dapat membuat komunikasi terbuka terhambat, sehingga peringatan atau kritik tidak dapat disuarakan. Situasi semacam ini dirasakan juga dalam manajemen Pembangkit Nuklir Fukushima, di mana para ahli sebenarnya telah menemukan kerentanan sistem pendingin reaktor sebelum bencana terjadi, tapi tindak lanjutnya tidak serius.

Pelajaran yang didapat dari bencana ini adalah betapa pentingnya menghadapi risiko alam dengan serius dan budaya organisasi yang terbuka. Rekomendasi yang sudah diajukan sebelumnya tentang memperkuat fasilitas nuklir di wilayah rawan gempa harus diimplementasikan secara lebih ketat. Mengabaikan kombinasi risiko alam besar dan budaya organisasi tertutup hanya akan menghasilkan petaka yang lebih besar di masa depan.

Source link