Resignation of Israel’s Defense Minister Amid US-Saudi Diplomatic Fallout

by

Israel diduga membuat operasi intelijen untuk menimbulkan konflik antara AS dan Mesir, yang memaksa Menteri Pertahanan Israel, Pinhas Lavon, mengundurkan diri. Pada tahun 1954, serangkaian ledakan terjadi di Mesir, mengganggu stabilitas politik dan mempertanyakan kepercayaan terhadap pemerintahan Mesir yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Philip Nathanson, yang terbukti sebagai agen intelijen Israel, ditangkap setelah ledakan tersebut, membuka jaringan luas operasi sabotase yang dikenal sebagai Operation Susannah. Operasi ini bertujuan merusak hubungan Mesir-AS dan memicu perseteruan.

Menurut buku Leonard Weiss, The Lavon Affair, operasi ini dimaksudkan untuk memperkuat musuh Nasser dan melemahkan dukungan Barat terhadapnya. Namun, skenario tersebut gagal dan malah memicu krisis politik di Israel, dengan Menteri Pertahanan Pinhas Lavon mengundurkan diri. Peristiwa ini dipicu oleh ketegangan geopolitik Israel dengan Mesir, yang kemudian berujung pada serangan militer oleh Israel, Inggris, dan Prancis terhadap Mesir.

Kejadian serupa diduga terulang dalam konflik antara Iran dan Israel, di mana pemerintah Iran menuduh Israel berada di balik serangan terhadap fasilitas sipil di negara tetangga. Pemerintah Iran mengklaim bahwa Israel menggunakan skenario false flag operation untuk memicu konflik di kawasan. Kesamaan pola konflik ini menunjukkan bahwa operasi intelijen dapat memainkan peran kunci dalam mempengaruhi hubungan internasional dan stabilitas politik suatu negara.

Source link