Cerita WNI Bergabung Tentara AS: Pengalaman Perang yang Membahayakan

by

Pengalaman Sudirman Boender sebagai tentara Amerika Serikat (AS) menjadi sebuah cerita yang penuh tantangan dan pengalaman yang sulit. Boender, seorang Warga Negara Indonesia (WNI), berhasil lolos dan menjadi bagian dari pasukan khusus yang kemudian menjadi cikal bakal NAVY SEAL. Namun, di balik prestise tersebut, terdapat kisah latihan yang kejam, membuatnya nyaris kehilangan nyawa berulang kali.

Boender lahir di Yogyakarta pada tahun 1920, dan hidupnya berubah drastis ketika diusir dari rumahnya pada usia remaja. Tanpa tujuan yang jelas, ia kabur ke Jakarta, di mana nasib membawanya bertemu dengan Bowen, seorang warga negara AS yang membiayai pendidikannya hingga ke California pada awal 1940-an. Awalnya, cita-citanya hanyalah untuk belajar kedokteran dan memperbaiki kehidupannya.

Namun, pecahnya Perang Dunia II mengubah segalanya. Boender dipanggil untuk wajib militer di AS setelah Jepang menyerang Pearl Harbor pada September 1942. Dia dengan terpaksa harus mengikuti pelatihan yang tak kenal ampun di tempat terpencil, tanpa ada ruang untuk menolak. Pelatihan ini penuh dengan hukuman fisik dan ketakutan, membuatnya merasa seperti tengah berada di tempat neraka.

Setelah melalui seleksi ketat, Boender berhasil lolos dan bergabung dengan Underwater Demolition Team (UDT), sebuah pasukan khusus yang tugasnya sangat berbahaya di perang laut. Latihan yang harus dijalani Boender di bawah air menghadirkan ancaman kematian setiap saat. Namun, dengan keyakinan dan ketabahan, ia berhasil melewati semua ujian tersebut dan bahkan dipercaya sebagai komandan peleton.

Setelah selamat dari perang, Boender kembali ke Indonesia. Pengalamannya dalam tentara AS disebut telah memberikan kontribusi dalam pembentukan Komando Pasukan Sandi Yudha, atau yang kemudian dikenal sebagai Kopassus. Bagi Boender, menjadi tentara asing adalah pengalaman pahit yang di baliknya terdapat paksaan, ketakutan, dan kesulitan yang membuatnya merasa ‘tobat’.

Source link