Menteri RI Tanpa Rumah dan Miskin Meski Terlibat Megaproyek

by

Menteri “Termiskin” Indonesia yang Hidup Sederhana Namun Eksis

Jakarta, CNBC Indonesia – Memimpin proyek raksasa terkadang menjadi godaan besar bagi pejabat negara. Anggaran bernilai jumbo dalam proyek pembangunan infrastruktur kerap dikaitkan dengan praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Namun, hal itu tak berlaku bagi Menteri Pekerjaan Umum era Orde Baru, Sutami. Selama 14 tahun menjabat sebagai menteri dalam delapan kabinet, dia konsisten menolak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri. Di tengah banyaknya proyek besar yang berada di bawah tanggung jawabnya, Sutami justru memilih hidup sederhana hingga dijuluki “Menteri Termiskin”.

Kebijakan Sederhana yang Menyentuh Rakyat Kecil

Staf Ahli Sutami, Hendropranoto, dalam kesaksian berjudul Sutami Sosok Manusia Pembangunan Indonesia (1991) menceritakan, salah satu sikap itu tercermin pada kebiasaan berjalan kaki ketika mengunjungi suatu wilayah, khususnya perdesaan dan pelosok. Dia rela berjalan kaki berkilo-kilo karena tak ingin merepotkan orang. Terlebih, jalan kaki juga dipilih karena lebih efisien dan mudah saat meninjau berbagai proyek infrastruktur.

Dengan cara itu, Sutami bisa mengetahui implementasi pengerjaan proyek di bawah naungannya. Selain itu, jika ada permasalahan, bisa cepat diselesaikan. Baginya, pembangunan infrastruktur di pedesaan dan pelosok wilayah lebih bermanfaat bagi rakyat kecil, alih-alih difokuskan untuk kepentingan industri dan pengusaha. Kemudian, kutipan dalam pembaran Tempo (22/11/1980) menjelaskan bahwa tutur kata dan keseharian Sutami juga kental dengan kerendahan hati. Sebagai intelektual dan profesional di bidangnya, pria kelahiran 19 Oktober 1928 itu dikenal sederhana dan sangat merakyat.

Eksistensi Hidup Sederhana hingga Akhir Hidup

Meski berkecimpung di sektor yang sering dianggap “lahan basah”, Sutami sama sekali tak mengambil uang negara. Bahkan, rumah pribadi saja tak punya. Dia baru memiliki rumah setelah berhenti menjadi menteri pada 29 Maret 1978 karena sakit. Itu pun pembelian rumah dilakukan lewat cicilan per bulan. Atas dasar ini, dia dijuluki banyak orang sebagai “Menteri Termiskin”. Dia pun tak mempermasalahkan julukan tersebut.

Setelah pensiun, diketahui Sutami hidup jauh dari kemewahan. Rumah yang masih dicicil itu pernah diputus aliran listriknya karena dia tak bisa membayar tagihan. Lalu, ketika sakit pun, Sutami enggan ke rumah sakit karena takut tidak bisa membayar biaya pengobatan. Penyakit yang dideritanya adalah penyakit liver kronis dan muncul akibat kurangnya asupan makinan bergizi serta kelelahan dari sering bepergian dengan berjalan kaki.

Ketika Presiden Soeharto mengetahui kondisinya, dia langsung memintanya untuk berobat tanpa perlu membayar. Namun, Sutami akhirnya kalah dari penyakitnya dan meninggal dunia pada 13 November 1980. Karya-karya Sutami yang jauh dari sensasi semasa menjabat hingga saat ini masih dirasakan manfaatnya, termasuk pembangunan infrastruktur megaproyek seperti Tol Jagorawi dan Jembatan Ampera.

Source link