Soeharto Murka Karena Anggaran Megaproyek Rp1,7 Triliun Belum Cair
Jakarta, CNBC Indonesia – Proyek megaproyek senilai Rp1,7 triliun yang melibatkan Indonesia dan perusahaan Jepang menjadi sorotan pada tanggal 6 Juli, 51 tahun lalu. Proyek ini merupakan bagian dari kerja sama antara kedua negara untuk memanfaatkan Sungai Asahan di Sumatera Utara sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk pabrik peleburan aluminium.
Soeharto Bersikeras untuk Memastikan Cairnya Anggaran Proyek
Proyek Asahan, dengan nilai investasi mencapai 411 miliar yen atau setara Rp1,7 triliun, menjadi perhatian khusus Presiden Soeharto. Menghadapi kendala karena anggaran tak kunjung turun dari pemerintah, Soeharto marah saat mengetahui hal ini. Ia berulang kali meminta klarifikasi dari para menteri terkait namun tak memperoleh kepastian.
Ketika Soeharto mendengar laporan tersebut, ia memastikan berbagai upaya sudah dilakukan tetapi belum berhasil. Soeharto kemudian memanggil para menteri ekonomi ke kediamannya, dimana ia langsung meluapkan kemarahannya kepada mereka yang dianggap tidak serius mendukung proyek vital untuk industri nasional.
Soeharto juga menegaskan bahwa Proyek Asahan merupakan investasi jangka panjang yang harus mendapatkan perhatian penuh dalam segi anggaran. Setelah pertemuan tersebut, anggaran proyek mulai mengalir dan pembangunan dapat dilanjutkan.
Proyek Asahan Berhasil Diresmikan Setelah Dekade Proses Pembangunan
Setelah hampir satu dekade dalam pembangunan, Proyek Asahan akhirnya diresmikan pada 6 November 1984 oleh Soeharto. Kerja sama dengan perusahaan Jepang berakhir pada 9 Desember 2013, dan sejak saat itu kepemilikan sepenuhnya dipegang oleh pemerintah Indonesia melalui BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM).



