Kenapa Abu Vulkanik Menyebabkan Penutupan Penerbangan

by

Abu Vulkanik dari Gunung Anak Krakatau Mengancam Penerbangan di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau mengganggu penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Bukan hanya masalah jarak pandang, tetapi ini juga berkaitan dengan risiko kerusakan mesin dan komponen pesawat.

Ukuran dan Sifat Partikel Abu Vulkanik

Abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik berukuran sangat kecil. Partikel ini bersifat abrasif dan dapat terbawa angin ke jarak yang jauh dari sumber erupsi. Menurut United States Geological Survey (USGS), abu vulkanik adalah ancaman serius bagi penerbangan meskipun pesawat berada jauh dari gunung api. Awan abu dengan konsentrasi tinggi dapat mengurangi jarak pandang, merusak sistem pesawat, dan menyebabkan gangguan pada mesin jet.

Bahaya Masuknya Abu Vulkanik ke dalam Mesin Pesawat

Risiko tersering adalah kemungkinan abu vulkanik memasuki mesin jet. Ketika pesawat melintasi awan abu, partikel dapat tersedot ke dalam mesin. Material abu yang meleleh akibat panas mesin dapat menyumbat komponen, mengikis komponen, dan bahkan menyebabkan mesin mati. Sebagai contoh, pada kasus erupsi Gunung Galunggung 1982, sebuah Boeing 747 kehilangan tenaga pada keempat mesinnya dan mengalami penurunan ketinggian sebelum berhasil mendarat dengan selamat di Jakarta.

Bahaya abu vulkanik ini tidak hanya terbatas pada mesin pesawat. Partikel yang abrasif juga dapat menggores kaca depan pesawat dan mengganggu sistem lainnya. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam menghadapi sebaran abu vulkanik sangat diperlukan demi keselamatan penerbangan.

Keputusan menutup atau mengalihkan penerbangan tidak diambil secara sembarangan. Informasi dari pemantauan dan laporan atmosfer menjadi dasar dalam mengambil langkah-langkah tersebut. Keselamatan penumpang dan awak pesawat tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi ancaman abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.

Sumber: ANTARA 2026

Source link