Mesin Ekonomi Tertua di Dunia yang Terbukti Bikin Negara Kaya

by

Perbudakan bukan sekadar praktik sosial dalam Kekaisaran Romawi, melainkan fondasi yang menopang hampir seluruh aktivitas ekonominya. Dari rumah tangga, pertanian, pertambangan, dan pembangunan hingga birokrasi, tenaga orang-orang yang diperbudak digunakan untuk menjaga kehidupan kekaisaran yang berdiri sejak 27 SM itu tetap berjalan.

Sejarawan Emma Southon, dalam tulisannya di National Geographic, menggambarkan posisi perbudakan dalam ekonomi Romawi dengan kalimat tegas: “Itu bukan sekadar bagian dari ekonomi Romawi; itu adalah ekonomi Romawi.”

Penaklukan menjadi sumber tenaga kerja

Perluasan wilayah Roma berjalan beriringan dengan pertumbuhan sistem perbudakan. Setiap penaklukan membuka akses terhadap penduduk dari wilayah yang kalah. Mereka dikumpulkan, kemudian dijual kepada para pedagang yang mengikuti pasukan Romawi.

Dalam penaklukan wilayah Gaul, Julius Caesar bahkan mengklaim telah memperbudak sekitar satu juta orang. Pada periode tertentu, orang-orang yang diperbudak diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dari seluruh penduduk Kekaisaran Romawi.

Jumlah tersebut membuat perbudakan hadir di hampir setiap lapisan kehidupan. Di sektor konstruksi, orang-orang yang diperbudak memproduksi jutaan batu bata dan ubin secara manual. Marmer ditambang dari berbagai wilayah, lalu diangkut melintasi Laut Mediterania untuk membangun kuil, forum, amfiteater, serta kediaman kalangan elite.

Pekerjaan mereka juga mencakup tugas-tugas yang tidak selalu terlihat dalam kemegahan Roma. Sekitar 700 orang yang diperbudak disebut bertugas merawat saluran air dan air mancur di kota tersebut. Sebagian lainnya bekerja sebagai petugas kuil, penyalin dokumen, pegawai birokrasi, pekerja tambang, dan pelayan rumah tangga.

Dari rumah elite hingga pekerjaan sehari-hari

Rumah tangga menjadi salah satu ruang utama tempat sistem itu beroperasi. Rumah milik kalangan elite dapat memiliki ratusan orang yang diperbudak untuk mengurus berbagai kebutuhan pemiliknya. Bahkan keluarga biasa bisa memiliki satu atau dua orang yang diperbudak untuk membantu pekerjaan sehari-hari.

Namun, peran ekonomi tersebut tidak menghapus posisi mereka sebagai kelompok yang kehilangan kebebasan dan rentan terhadap kekerasan. Tabib Galen mencatat pernah melihat orang-orang yang diperbudak diserang menggunakan pena dan pedang hingga mengalami patah tulang serta kerusakan mata.

Kekerasan itu begitu melekat dalam sistem tersebut hingga pada 319 Masehi Kaisar Konstantinus mengeluarkan aturan yang melarang pemilik membunuh budaknya. Southon menggambarkan status budak sebagai kehilangan identitas sekaligus hidup di bawah ancaman pemilik.

Hanya sebagian kecil yang memperoleh kebebasan

Peluang untuk keluar dari kondisi tersebut sangat terbatas. Di sebuah pemakaman kekaisaran di Kartago yang berisi sekitar 1.300 orang, dua pertiganya diketahui meninggal ketika masih berstatus budak. Data itu menggambarkan betapa kecil kemungkinan seseorang untuk memperoleh kebebasan setelah masuk ke dalam sistem perbudakan.

Perbudakan juga pernah digunakan di beberapa masa dalam sejarah Indonesia. Namun, seperti di berbagai belahan dunia lainnya, praktik tersebut kini telah dilarang.

Source link