Negara Muslim Diam-Diam Bocorkan Rahasia Pemimpin Arab ke Israel

by

Pada 1965, ketika para pemimpin negara Arab berkumpul di Casablanca untuk membahas kemungkinan perang melawan Israel, percakapan mereka ternyata dipantau secara rahasia. Operasi itu melibatkan Maroko dan Israel, dengan intelijen Maroko merekam pembahasan strategis para peserta konferensi lalu menyerahkan hasilnya kepada Israel.

Konferensi rahasia di Casablanca

Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab tersebut dihadiri para pemimpin negara Arab, komandan militer, serta kepala badan intelijen dari Mesir, Suriah, Yordania, dan sejumlah negara Arab lainnya. Agenda utamanya adalah mengukur kesiapan militer dalam menghadapi Israel.

Dalam pertemuan itu, para peserta membahas kekuatan pasukan, persenjataan, serta strategi yang akan digunakan jika perang pecah. Raja Yordania dan Presiden Mesir bahkan dikabarkan terlibat perdebatan mengenai cara mengalahkan Israel.

Namun, tanpa sepengetahuan para delegasi, Raja Hassan II dari Maroko mengizinkan badan intelijen Israel, Mossad, memantau jalannya konferensi. Tim gabungan yang dipimpin Peter Zvi Malkin dan Rafi Eitan dari dinas keamanan internal Israel serta Mossad disebut telah tiba di Casablanca. Pihak Maroko, menurut kesaksian mantan Kepala Intelijen Militer Israel Mayor Jenderal Shlomo Gazit, menutup seluruh lantai hotel untuk tim tersebut.

“Sebuah tim gabungan yang dipimpin oleh Peter Zvi Malkin dan Rafi Eitan dari dinas keamanan internal Israel dan Mossad tiba di Casablanca, dan pihak Maroko menutup seluruh lantai hotel untuk mereka,” kata Gazit kepada situs berita Israel, Ynet.

Rekaman diserahkan kepada Israel

Operasi itu kemudian berubah di tengah konferensi. Raja Hassan II meminta Mossad menghentikan pemantauan langsung karena khawatir keberadaan personel Israel terbongkar. Sebagai gantinya, intelijen Maroko mengambil alih perekaman dan pelaporan seluruh pembicaraan para pemimpin Arab kepada Israel.

Dua tahun setelah konferensi tersebut, pecah perang antara Israel dan sejumlah negara Arab. Rekaman dari pertemuan Casablanca disebut menjadi salah satu sumber informasi penting bagi Israel dalam menghadapi konflik yang kemudian dikenal sebagai Perang Enam Hari.

Dalam perang itu, Israel berhasil mengalahkan negara-negara Arab yang terlibat. Mengutip Ynet, Perdana Menteri Israel saat itu, Levi Eshkol, menggambarkan operasi 1965 tersebut sebagai “salah satu keberhasilan terbesar intelijen Israel”.

Bagian dari hubungan rahasia Maroko-Israel

Operasi di Casablanca merupakan salah satu bagian dari kerja sama rahasia Maroko dan Israel yang telah berlangsung sejak 1963, ketika Hassan II berkuasa. Berdasarkan riset berjudul Israel and Morocco: From Clandestine Partnership to the Abraham Accords, Hassan II memilih mendekat ke blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat, bukan ke negara-negara Muslim dan blok Timur.

Salah satu bentuk kebijakannya adalah memfasilitasi emigrasi sekitar 100 ribu orang Yahudi Maroko ke Israel-Palestina, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis. Pada masa itu, Maroko memiliki komunitas Yahudi terbesar di dunia Arab, dengan sekitar 270.000 orang Yahudi tinggal di kerajaan tersebut. Sebagai imbalannya, Maroko menerima pembayaran dari Israel.

Hubungan kedua negara mulai terlihat lebih terbuka pada dekade 1980-an melalui pertemuan dan pendirian kantor penghubung. Mengutip Al Jazeera, Israel dan Maroko kemudian sepakat meningkatkan hubungan diplomatik, termasuk kerja sama jual-beli senjata, menaikkan status perwakilan menjadi kedutaan besar, serta menunjuk duta besar untuk kedua negara pada 2026.

Source link