Kemandirian Antariksa sebagai Upaya Menjaga Kedaulatan Nasional

by -124 Views

Sejak zaman Perang Dunia hingga Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet bersaing sebagai kekuatan super global, tidak melalui perang militer langsung, tetapi melalui persaingan teknologi. Perlombaan ini mencakup pengembangan senjata mutakhir, pesawat canggih, hingga senjata nuklir.

Namun, persaingan yang paling menarik adalah dominasi Antariksa. Mulai dari keberhasilan Uni Soviet mengirimkan manusia pertama ke luar angkasa, hingga Amerika Serikat berhasil mendaratkan manusia di bulan.

Setelah pendaratan terakhir di bulan pada tahun 1972, eksplorasi Antariksa manusia tampaknya mandek, tidak hanya karena ketidakmampuan, tetapi juga karena biaya yang sangat mahal untuk mencapai Antariksa. Hingga saat ini, manusia belum banyak melampaui orbit bumi atau kembali ke bulan.

Namun, kemajuan ini tidak menghalangi pencapaian manusia. Di era ini, kita telah menciptakan teknologi yang lebih canggih untuk mengamati Antariksa secara lebih detail. Eksplorasi dilakukan menggunakan drone dan satelit di berbagai planet di tata surya kita, serta melalui rover drone di planet Mars.

Meskipun demikian, semua pencapaian ini masih didominasi oleh beberapa negara, padahal sebagai manusia, kita memiliki tujuan yang sama. Dengan adanya teknologi baru, banyak negara kini dapat memulai “program Antariksa” mereka sendiri, memicu “perlombaan Antariksa” baru. Pertanyaan tentang siapa yang dapat mencapai dan mengontrol sumber daya serta wilayah Antariksa menjadi isu penting yang turut diperbincangkan.

Diskusi publik CIReS LPPSP FISIP UI dengan judul “Mewujudkan Kemandirian Antariksa Indonesia di Tengah Persaingan Global” telah berhasil digelar pada Selasa, 27 Mei 2025, pukul 13.30 – 16.30 WIB, di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI Depok.

Acara tersebut menampilkan Prof. Thomas Djamaluddin (BRIN RI) sebagai Pembicara Utama dan sejumlah narasumber terkemuka dari berbagai sektor, termasuk Dr. Dave Akbarshah Fikarno Laksono, M.E. (Wakil Ketua Komisi I DPR RI), Yusuf Suryanto, S.T., M.Sc. (Kementerian PPN/Bappenas), Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim (Ketua PSAPI), Anggarini Surjaatmadja, M.B.A. (Asosiasi Antariksa Indonesia), Prof. Dr. Fredy B. L. Tobing (FISIP UI), dan Asra Virgianita, Ph.D. (CIReS FISIP UI). Diskusi ini dipandu oleh Vahd Nabyl Achmad Mulachela, S.IP., M.A. dari Kementerian Luar Negeri RI sebagai moderator.

Prof. Thomas Djamaluddin memulai presentasinya dengan fokus pada tema utama acara, “Mewujudkan Kemandirian Antariksa Indonesia di Tengah Persaingan Global.” Ia memulai diskusi dengan mengajukan tiga pertanyaan utama sebagai landasan pembahasan selanjutnya: (1) bagaimana perkembangan keantariksaan Indonesia saat ini dari aspek aset, pelaksanaan, dan kerja sama keantariksaan; (2) apa saja tantangan utama yang dihadapi dalam pengembangan lembaga Antariksa di Indonesia; dan (3) bagaimana perkembangan keantariksaan Indonesia dibandingkan dengan negara lain.

Dalam penjelasan selanjutnya, Prof. Thomas Djamaluddin menguraikan beberapa tonggak penting aktivitas keantariksaan di Indonesia. Dimulai dari era 1960-an hingga 1970-an, Indonesia telah membentuk Aerospace Council Lapan dan menjalin kerja sama dalam teknologi Antariksa. Perkembangan berlanjut pada 1970-an hingga 1990-an dengan pembangunan stasiun bumi satelit pertama dan eksperimen teknologi Antariksa, yang kemudian diikuti dengan operasionalisasi komunikasi satelit.

Masuk ke periode 1990-an hingga 2000-an, fokus utama adalah pada stasiun bumi untuk penerimaan data satelit, TT&C (Telemetry, Tracking, and Command), serta telekomunikasi dan data satelit. Terakhir, antara 2000 hingga 2012, Indonesia mulai aktif dalam pengembangan satelit, perumusan kebijakan Antariksa, dan komitmen nasional terhadap produk Antariksa.

Dalam diskusi tersebut, narasumber lain menjelaskan bahwa program Antariksa Indonesia masih dihambat oleh kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman akan pentingnya sektor Antariksa, sehingga diperlukan upaya edukasi yang lebih besar untuk generasi mendatang.

Dari keseluruhan diskusi, menjadi jelas bahwa kemandirian Antariksa Indonesia adalah suatu keharusan yang memerlukan dukungan luas dari berbagai pihak. Kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat, perlu meningkatkan pemahaman akan signifikansi sektor Antariksa. Dengan demikian, diharapkan generasi yang akan datang memiliki pengetahuan dan kesadaran yang lebih baik untuk ikut serta dalam mewujudkan impian Indonesia di dunia Antariksa, membawa bangsa ini bersaing dalam era baru perlombaan Antariksa global.

Sumber: Kemandirian Antariksa Dan RUU Pengelolaan Ruang Udara Nasional: Strategi Indonesia Hadapi Era Baru Perlombaan Antariksa
Sumber: Kemandirian Antariksa, Era Baru Perang Bintang Indonesia?