Mengapa Bencana Jakarta Merenggut Nyawa 34.000 Orang?

by

Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia sebagai negara berada di zona pergerakan lempeng bumi, mengalami aktivitas tektonik dan vulkanik yang tak terhindarkan. Hal ini juga berlaku bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Meskipun perkembangan teknologi semakin maju, namun belum ada yang dapat memprediksi kedatangan aktivitas tersebut. Oleh karena itu, penting untuk belajar berdamai dengan alam melalui memahami mitigasi bencana. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan mengenali tanda-tanda awal seperti suara gemuruh, seperti yang terjadi pada gempa dahsyat pada tahun 1780.

Pada Sabtu, 22 Januari 1780, kehidupan masyarakat di Jakarta (dulu Batavia) berjalan seperti biasa hingga tiba-tiba suara gemuruh terdengar hebat pada pukul 14.39 waktu setempat. Suara ini tidak disangka berasal dari langit dan membuat warga heran. Ketika tanah mulai bergetar pada saat yang sama dengan guncangan bergelombang, bangunan bergoyang hebat dan masyarakat berhamburan mencari perlindungan. Meskipun getaran mereda pada pukul 14.42, bencana belum berakhir. Gunung Salak di Buitenzorg (Bogor) dan Gunung Gede mengeluarkan dentuman keras, merusak sejumlah bangunan di Jakarta dan menewaskan beberapa korban.

Gempa ini juga dirasakan hampir seluruh Jawa dan bahkan kapal dagang Willem Frederick di Selat Sunda ikut merasakan getaran. Berbagai penelitian kemudian mencoba merekonstruksi skenario dari gempa tersebut, mengaitkannya dengan aktivitas Sesar Baribis yang membentang dari Purwakarta hingga Rangkasbitung. Gempa tahun 1780 diperkirakan memiliki magnitudo 7-8 dan menghasilkan intensitas maksimum hingga skala MMI VIII. Meskipun terbata, perkiraan menyebutkan bahwa sekitar 34 ribu orang meninggal akibat gempa ini, menjadikannya salah satu gempa terbesar yang pernah terjadi di Jawa.

Artikel ini merupakan bagian dari rubrik CNBC Insight yang bertujuan memberikan wawasan terhadap sejarah untuk memahami kondisi masa kini melalui konteks masa lampau. Melalui berbagai kisah seperti ini diharapkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana dapat terus dibangun.

Source link