Soekarno Sakit Hati: Menteri Dihina, Pendemo Bawa Tuntutan Rakyat

by

Pada tahun 1966, Indonesia menjadi saksi dari aksi demonstrasi besar-besaran yang dipimpin oleh ribuan mahasiswa. Mereka menuntut perubahan menyeluruh karena kondisi negara yang semakin memprihatinkan. Harga bahan pangan yang melambung tinggi, kenaikan harga bensin, dan situasi politik yang tidak stabil adalah beberapa masalah utama yang tidak segera diatasi oleh pemerintah, terutama oleh Presiden Soekarno.

Aksi demonstrasi tersebut mencapai puncaknya ketika mahasiswa meluapkan kemarahan dengan menggunakan kata-kata umpatan kasar, baik dalam poster yang dibentangkan di jalanan maupun dalam yel-yel yang disuarakan. Menteri-menteri Soekarno menjadi sasaran umpatan, termasuk Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri, Subandrio.

Namun, reaksi dari Presiden Soekarno terhadap umpatan tersebut menunjukkan rasa sedih dan sakit hati. Dia menyatakan bahwa umpatan yang ditujukan kepada menteri-menterinya, terutama dengan sebutan “goblok”, sangat tidak sopan dan membuatnya merasa terhina. Soekarno juga menunjukkan sikap denyial atas berbagai peristiwa buruk yang terjadi, membuat amarah mahasiswa semakin meluap.

Reshuffle kabinet yang dilakukan oleh Soekarno pada Februari 1966 pun tidak memuaskan mahasiswa karena masih melibatkan unsur-unsur yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Demonstrasi terus berlanjut dan semakin meluas, hingga akhirnya Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberi mandat kepada Jenderal Soeharto untuk mengelola ketertiban dan keamanan negara.

Supersemar menjadi titik balik dalam sejarah Indonesia, di mana kekuasaan Soekarno mulai tergerus dan posisi Soeharto semakin menguat. Kisah ini menggambarkan pentingnya kebebasan bersuara dalam berunjuk rasa namun juga perlu diiringi dengan sikap yang hormat dan bijaksana, terutama dalam menyampaikan aspirasi kepada pihak yang berwenang.

Source link