Reaksi Dunia Terhadap Serangan Israel ke Warga Palestina

by -44 Views

Pagi itu, Fatima Hamis al-Jabari pergi ke Masjid Ibrahim bersama keluarganya untuk melaksanakan salat Subuh berjemaah di bulan Ramadan. Mereka membawa doa dan keyakinan tanpa firasat buruk. Suasana hening saat salat dimulai, tetapi tiba-tiba terdengar suara tembakan yang mengagetkan jemaah. Fatima kaget dan langsung berlari mencari suaminya di tengah kekacauan jemaah yang berhamburan. Namun, yang ditemukan Fatima adalah suaminya tergeletak bersimbah darah di lantai masjid, sementara anaknya terluka di dekatnya.

Tragedi yang menimpa keluarga Fatima di Masjid Ibrahim, Hebron, pada 25 Februari 1994, atau 34 tahun yang lalu, merupakan peristiwa penting dalam sejarah konflik antara Israel dan Palestina. Pembantaian berlangsung hanya 10 menit, namun mengakibatkan 29 jemaah tewas dan 150 orang terluka. Dalang di balik tragedi ini adalah seorang dokter militer Israel-Amerika bernama Baruch Goldstein, yang tewas di lokasi kejadian setelah diserang oleh jemaah.

Goldstein diketahui memiliki pandangan anti-Arab dan ultra-nasionalis yang dipengaruhi oleh ajaran rabi ekstremis Meir Kahane. Kejadian ini terjadi di tengah upaya perdamaian Israel-Palestina dan melibatkan seorang tentara aktif sebagai pelaku, menimbulkan kecaman dari dunia internasional. Meski motifnya tidak pernah dipastikan, laporan menyebut bahwa Goldstein bertindak sendirian. Peluru yang ditemukan di lokasi kejadian sebagian besar berasal dari senjata Goldstein, tetapi juga ada yang berasal dari tentara lain yang menembak untuk menenangkan situasi.

Walaupun banyak negara mengutuk insiden ini dan Dewan Keamanan PBB turut bersidang, pembantaian oleh Israel tetap terjadi di masa-masa berikutnya. Melalui laporan ini, CNBC Insight memberikan gambaran sejarah yang relevan dengan kondisi saat ini serta membawa kita untuk merenungkan masa lalu demi mewujudkan perdamaian di masa depan.

Source link