Pada masa awal kemerdekaan, warga Indonesia pernah mengalami kesulitan dalam melakukan mudik karena adanya konflik perang. Salah satu contohnya adalah pada perayaan Idul Fitri pada 28 Agustus 1946. Meskipun tradisi pulang ke kampung halaman sudah mulai berkembang, namun kontak senjata antara pejuang Republik dan pasukan NICA membuat banyak orang terpaksa membatalkan perjalanan. Keadaan politik dan keamanan yang tidak stabil serta kehadiran pasukan asing di sejumlah kota strategis di Jawa menjadi penghambat utama bagi mobilitas masyarakat.
Pertempuran dan kekhawatiran atas keamanan membuat banyak warga tidak bisa melaksanakan tradisi mudik dengan tenang. Misalnya, di Yogyakarta, puluhan tentara Belanda masuk sebelum Lebaran, menciptakan kecemasan di antara warga setempat. Demikian pula, di Bogor, pertempuran malam menjelang Idul Fitri mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk perjalanan ke kampung halaman. Bahkan, pelaksanaan ibadah seperti salat Id di Jakarta pada 1948 sempat dihalangi tentara Belanda karena situasi keamanan yang memanas.
Peristiwa-peristiwa ini menggambarkan bahwa tradisi mudik Lebaran tidak selalu berjalan lancar, terutama di masa-masa konflik seperti perang kemerdekaan. Konflik bersenjata, ketegangan keamanan, dan mobilitas terbatas seringkali menjadi hambatan bagi warga untuk merayakan hari raya dengan penuh kebebasan. Sejarah ini mengingatkan kita akan pentingnya kedamaian dan stabilitas dalam menjaga tradisi dan kebersamaan dalam perayaan agama.





