Presiden Soekarno Diterjang Tembakan Saat Salat Idul Adha
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Peristiwa bersejarah terjadi pada 10 Zulhijah 1381 H atau 14 Mei 1962 ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menjadi target aksi penembakan brutal saat tengah menunaikan ibadah salat Idul Adha berjamaah di halaman Istana Merdeka, Jakarta.
Upaya Penembakan yang Gagal
Merujuk pada pemberitaan surat kabar harian Merdeka, kepanikan pecah ketika seorang pria meneriakkan takbir, “Allahu akbar!” dan menembak tiga kali ke arah posisi Bung Karno berdiri. Namun, berkat jarak yang jauh dan banyaknya orang di sekitarnya, upaya tersebut gagal mencapai sasarannya. Pelaku, identitasnya diketahui sebagai Sanusi, akhirnya ditangkap setelah mencoba menerobos maju ke arah presiden.
Reaksi Terhadap Insiden
Setelah kejadian tersebut, penyelidikan mengungkap bahwa ancaman terhadap Soekarno sebenarnya telah terdeteksi sebelumnya. Informasi mengenai rencana pembunuhan terhadap kepala negara telah diterima, sehingga pengamanan selama salat Idul Adha telah diperketat. Namun, pelaku masih berhasil mencoba melakukan aksinya.
Peristiwa ini memicu perubahan dalam sistem pengamanan presiden. Pasukan Tjakrabirawa, yang kini dikenal sebagai Pasukan Pengawal Presiden, dibentuk untuk memperkuat pengawalan kepala negara setelah insiden penembakan tersebut. Sejak saat itu, pengamanan terhadap presiden Indonesia lebih diperketat untuk mencegah insiden serupa terulang.



