Geger! Intel Korsel Nyamar Jadi Pengusaha Korut, Perekam di Penis

by

Selama bertahun-tahun, Park Chae-seo menjalankan penyamaran sebagai pengusaha yang beroperasi di Korea Utara. Di balik aktivitas bisnisnya, ia merupakan agen rahasia Korea Selatan yang ditugaskan menembus lingkaran elite Pyongyang dan mengumpulkan informasi mengenai program senjata nuklir negara tersebut.

Operasi Park mencapai titik paling berisiko ketika ia bertemu langsung dengan pemimpin tertinggi Korea Utara saat itu, Kim Jong Il. Dalam pertemuan pribadi yang berlangsung selama 35 menit, Park menyembunyikan alat perekam di alat vitalnya. Percakapan rahasia dalam audiensi tersebut kemudian berhasil direkam dan dikirim ke Seoul.

Membangun Identitas sebagai Pengusaha

Perjalanan Park sebagai agen intelijen bermula pada 1993. Ketika masih menjadi tentara, ia direkrut Badan Intelijen Korea Selatan untuk menjalankan misi membongkar program nuklir Korea Utara.

Agar tidak dicurigai, Park lebih dulu menghancurkan karier dan reputasinya sendiri. Ia membentuk citra sebagai prajurit bermasalah yang kerap membangkang, gemar berjudi, mengejar perempuan, serta terlilit utang besar. Skenario tersebut berhasil. Park akhirnya dipecat dari militer tanpa diketahui bahwa dirinya telah menjalankan misi intelijen.

Dengan identitas sebagai mantan tentara yang terdesak masalah keuangan, Park kemudian beralih menjadi pengusaha. Ia membangun jaringan perdagangan di China dan mulai berhubungan dengan para pelaku bisnis asal Korea Utara. Dari jalur perdagangan inilah aksesnya menuju lingkungan elite Pyongyang perlahan terbuka.

Akses ke Lingkaran Kim Jong Il

Kemampuan Park dalam berbisnis membawanya berkenalan dengan Jang Song-thaek, saudara ipar Kim Jong Il. Setelah membantu Jang dalam sebuah urusan bisnis, Park memperoleh kepercayaannya. Jang kemudian memfasilitasi kegiatan bisnis Park di Korea Utara sekaligus memperkenalkannya kepada sejumlah pejabat dan tokoh elite politik Pyongyang.

“Misi saya adalah menembus sedalam mungkin ke dalam kepemimpinan Pyongyang untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka pikirkan,” ujar Park kepada New York Times, seperti dikutip pada Senin (21/9/2026).

Dalam menjalankan operasi, Park beberapa kali menghadapi kecurigaan aparat Korea Utara. Ia tetap lolos, antara lain dengan memanfaatkan kegemaran para penguasa terhadap barang mewah dan antik. Salah satu transaksi yang disebutkan adalah penjualan keramik antik bernilai jutaan dolar.

Dari pengalaman itu, Park menilai uang menjadi salah satu titik lemah rezim Korea Utara. “Jika saya berhasil, itu karena saya sangat memahami betapa besarnya selera mereka terhadap uang,” tuturnya.

Keberhasilan merekam percakapan Kim Jong Il menjadikan Park, yang dikenal dengan nama samaran “Black Venus”, sebagai salah satu dari sedikit mata-mata yang pernah berada sangat dekat dengan pemimpin tertinggi negara musuh.

Penyamaran Terbongkar karena Skandal Politik

Penyamaran Park tidak terbongkar melalui operasi kontraintelijen Korea Utara. Identitasnya justru terungkap akibat gejolak politik di Korea Selatan menjelang pemilihan presiden 1997.

Saat itu, muncul skandal yang mengungkap dugaan kerja sama rahasia antara oknum badan intelijen Korea Utara dan Korea Selatan. Kedua pihak disebut sama-sama tidak menginginkan Kim Dae-jung memenangkan pemilihan presiden.

Park kemudian membelot dari institusinya dan membocorkan rencana tersebut kepada kubu Kim Dae-jung. Informasi itu akhirnya meluas ke publik. Para pimpinan badan intelijen Korea Selatan ditangkap, tetapi sebelum menjalani hukuman, mereka membalas dengan membocorkan identitas Park sebagai agen “Black Venus” kepada media.

Terbongkarnya identitas itu memaksa Park melarikan diri ke China. Pada 2010, ia ditangkap militer Korea Selatan dengan tuduhan melakukan kontak ilegal dan membagikan data sensitif kepada pihak Korea Utara.

Source link