Banjir Dahsyat China: 2 Juta Tewas, Ekonomi Lumpuh

by

Jebolnya tanggul di dekat Zhengzhou, Provinsi Henan, pada 5 September 1887 memicu salah satu banjir paling mematikan dalam sejarah China. Air Sungai Kuning membanjiri sekitar 130.000 kilometer persegi dataran rendah dan menewaskan antara 900.000 hingga 2 juta orang, termasuk akibat kelaparan dan wabah penyakit yang muncul setelah banjir.

Bencana itu berlangsung hingga awal Oktober. Hujan deras yang turun tanpa henti meningkatkan debit Sungai Kuning sampai tanggul tak lagi mampu menahan tekanan air. Berdasarkan surat-menyurat diplomat Amerika Serikat, tanggul yang runtuh di sekitar Zhengzhou memiliki lebar sekitar 1.650 meter. Dari titik tersebut, air dalam volume besar mengalir ke wilayah dataran rendah di sekitarnya.

Sungai dengan endapan lumpur tinggi

Kerentanan kawasan tersebut tidak terlepas dari karakter Sungai Kuning. Sungai utama di China utara itu memiliki panjang sekitar 5.464 kilometer. Namanya berasal dari sedimen halus berwarna kuning, atau loess, yang terbawa aliran sungai.

Kandungan lumpur yang tinggi membuat sedimentasi menumpuk, terutama di bagian hilir yang melintasi Dataran China Utara. Mengutip Britannica, kawasan itu merupakan dataran luas dan relatif datar. Endapan yang terus bertambah bahkan membuat dasar sungai di sejumlah lokasi lebih tinggi daripada permukaan tanah di sekitarnya.

Di Lung Men Kou, misalnya, dasar Sungai Kuning tercatat sekitar 15 kaki atau 4,6 meter lebih tinggi dari tanah di sekelilingnya. Dalam kondisi seperti itu, tanggul menjadi penahan utama agar air sungai tidak meluber ke wilayah yang lebih rendah. Ketika tanggul jebol, air dengan cepat menyebar ke area permukiman dan lahan produktif.

Kerusakan ekonomi dan korban setelah banjir

Banjir merendam lahan pertanian serta menghancurkan pusat-pusat ekonomi. Riset bertajuk Socio-economic Impacts on Flooding: A 4000-Year History of the Yellow River, China (2012) menyebut kerusakan tersebut mengganggu pasokan pangan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dampak bencana tidak berhenti ketika air mulai surut. Tanaman yang hancur dan pusat perdagangan yang lumpuh memicu kelaparan, sementara kondisi pascabanjir turut membuka jalan bagi penyebaran penyakit. Faktor-faktor lanjutan itu memperbesar jumlah korban jiwa. Sekitar 2 juta orang lainnya kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah Dinasti Qing juga harus mengeluarkan biaya besar untuk menutup kembali tanggul di Zhengzhou. Perbaikannya menelan sekitar 12 juta tael perak, setara dengan sekitar 15 persen dari total pendapatan nasional China dalam satu tahun pada masa tersebut.

Tragedi 1887 memperlihatkan berulangnya ancaman dari Sungai Kuning. Sungai itu diperkirakan telah meluap sekitar 1.500 kali sejak abad ke-2 sebelum Masehi, dengan banjir yang berulang kali membawa kematian dan kerusakan dalam skala besar.

Source link